Skip to main content

Khotbah : Seri Doa Bapa Kami

 Bapa Kami yang di Sorga (The Series)

 

Prolog

Label: Yesus baru saja menyindir orang munafik, sebab mereka berdoa:

l Supaya dilihat orang

l Bertele-tele

l Dapat menyuap Tuhan

 

 

Bapa kami yang di Sorga. . . 

DBK bicara tentang hubungan dengan Allah dan manusia, vertikal dan horizontal. 

DBK sangat singkat, bahkan dapat dihafal oleh anak2 namun banyak para ahli telah meneliti maknanya dan ditulisan dalam ribuan lembar.

Bermakna:

1. Melukiskan Suatu hubungan: Intim dan Dekat

l Sangat mustahil pikiran manusia yang terbatas hendak memahami Allah yang kekal dan tak terbatas. Bila manusia dapat menjelaskan Tuhan sepenuhnya maka Tuhan akan lenyap (band. Yes. 55:9). Allah memakai metafora agar manusia dapat mengenal pribadiNya = antropomorphisme

l Bahasa metafora/simbolis selalu yang mampu mengungkapkan hal yang tertinggi. Ex: Memahami penghiburan Tuhan (Yes 32:2), memahami tuntunan dan pemeliharaan Tuhan (Mzm. 23). Selama berabad-abad metafora Bapa-Anak yang menggaambarkan hubungan kita dengan Bapa telah membuka mata banyak orang, menyembuhkan banyak hati, menghibur banyak jiwa.

l Mengenal ALlah sebagai Bapa bukan satu-satunya cara mengenal Allah, perlu kehati-hatian dalam menggambarkan Allah, karena dapat mendistorsi citra Allah. ILUSTRASI: Mengenalkan kekasih dengan foto. Kita tidak puas dengan foto yang usang. Allah berrfirman, “jangan membuat patung diriKu, sebab bagimanapun hasil yang kamu peroleh itu hanya akan membuat Aku kelihatan buruk (Keluaran 20:4-6). Bantuan apa saja yang kita ciptakan untuk melihat atau mengenal Allah lebih jelas, selain dari apa yang telah ditentukan Allah, itu adalah penyembahan berhala sebab itu gambaran yang buruk.

l Namun dalam konteks doa, Ia ingin kita menganggap Dia sebagai Bapa. 

Tuan - Hamba : Jauh - Taat dalaam keHarusan

Bapa - Anak : Dekat - Semestinya taat

l Mengapa Bapa, bukan Ibu? Alkitab mencerminkan kapan dan dimana periode ia ditulis! Pada masa monarki, tatanan politik yanng didominasi laki-laki, Bapa, raja, tuan. Contoh lain, mengapa gembala domba? Itulah yang dikenal orang-orang pada zaman Yesus.

l Pada zaman Yesus, figur Bapa sangat dominan, terutama keluarga Yahudi abad 1. Itu sebabnya adalah wajar/relevan/relate bagi orang-orang saat itu bila Yesus bicara tentang Bapa Surgawi.

l Gambaran dan metafora verbal ini berfungsi dengan baik pada masa itu. Tapi dunia telah berubah. Mengatakan bahwa Allah adalah Bapa kita menyampaikan arti yang sama sekali berbeda di dunia saat ini. Karena kekerasan beberapa ayah, bagi banyak anak saat ini, citra ayah menakutkan dan menakutkan. ILUSTRASI: Seorang pendeta di panti asuhan menceritakan bagaimana dia tidak bisa menggunakan Doa Bapa Kami di rumah. Ada seorang gadis berusia tiga belas tahun di rumah yang, sejak usia tujuh tahun, telah berulang kali dilecehkan oleh ayahnya. Setiap kali dia mendengar kata ayah, itu memicu reaksi keras darinya. Jadi menggunakan ayah sebagai metafora untuk Tuhan tidak selalu cocok untuk semua anak di dunia, Bukan FT yang salah tetapi Bapak-bapaklah yang harus bertobatt (Kol. 3:21; Ef 6:4)

l Allah ingin kita mengenalNya sebagai Bapa, Bapa dalam pengertian hubungan yang sangat intim dan sangat dekat. Supaya kita bebas meminta apa saja kepadaNya, supaya tidak ada keraguan/ketakutan mendekati dia. 

l Dapat gunakan ’bahasa ibu’ - bahasa sehari-hari : Bapak, Papa, Pa’e, Babe, Ayah. Allah takkan marah, sebab itu kehendakNya.

 

2. Melukiskan Karakter Allah: Bapa

l Ketika Allah memperkenalkan diriNya sebagai Bapa, yang dimaksudkan adalah Bapa yang pengasih bukan seperti bapa-bapa yang tadi (Mzm. 103:13).

l Bapa : melukiskan karakter bukan gender. Sebab Bapa adalah pengasih sekaligus pengasuh kita : sebagai Bapak - Ibu (Hos. 11:1-4; Yes. 66:13)

l Dan Ia mau semua orang, tanpa terkecuali memperlakukan Ia sebagai Bapa (dalam doa mereka). Perhatikan kata pembukaan doa: "Kami"—bukan "milikku" atau "milikmu", tetapi "milik kami/kita". Bagi Yesus, Allah adalah Bapa dari semua orang, dari empat penjuru bumi. Doa ini melintasi setiap negeri, budaya, ras, dan kebutuhan. Tuhan bukanlah milik satu kelompok orang, tetapi milik semua orang.

l Pikiran pertama dari doa ini adalah memusatkan pikiran dan pengenalan kepada Tuhan daripada pada diri sendiri, kebutuhan, atau masalah. Jika pikiran pertama kita tertuju pada diri kita sendiri, kita akan kecewa dengan hasil doa kita dan merasa telah gagal. Yesus mengajar kita dalam doanya untuk mengalihkan pikiran kita dari diri kita sendiri dan kepada Allah, yang adalah Bapa "kita" dari semua.

l Kedua, Bapa kita adalah Allah. Kita harus ingat bahwa Allah kepada siapa kita berdoa mengetahui apa yang kita butuhkan: "Sebab Bapamu mengetahui apa yang kamu butuhkan sebelum kamu meminta kepada-Nya" (Matius 6:8). Kita tidak datang kepada Tuhan yang perlu dibujuk, direcoki, atau dipukuli untuk mendapatkan jawaban. Tuhan adalah Tuhan yang penuh kasih, yang lebih siap menjawab doa daripada kita berdoa.

l Dalam iman Yahudi zaman Yesus, Allah yang ilahi patut dihormati itu sebabnya mreka tidak menyebut nama YHWH. Maka tentu saja mereka terkejut dengna penyataan Yesus tentang Allah yang Esa, yang Agung disebeut sebagai Bapa (Itu menakutkan bagi mereka, sekaligus suatu hhujatan terhadap Allah). Namun olehh pengurbanan Yesus, kita dilayakkan memanggil Allah ya Abba ya Bapa (Rm. 8:15)

l Namun Yesus yang mengajarkan hal itu tidak terganggu. Ia dan Bapa adalah satu. Selama pelayananNya di bumi, Tidak pernah Tuhan Yesus tidak menyebut Allah sebagai BapaNya. Di taman Getsemani, ketika kematian menjulang, Ia berdoa, Ya Bapa… Ketika massa berteriak, “salibkan Diaa”, Yesus bersyafaat, ampunilah mereka. Bahkan sampai akhir nafasnya, Tuhan Yesus tahu bahwa Bapa adalah rumah akhir, Ia berseru, “Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaKu”

l Demikianlah harusnya hidup kita, sejak bangun hingga tidur lagi, memohonlah kepada Bapa. Sejak lahirr hingga akhir hayat, kepada Bapa kita harus kembali

 

3. Melukiskan Kemuliaan Allah: Sorga

Mungkin sebagian besar orang Kristen memahami Sorga dengan cara yg sempit, mengimajinasikannya dengan kacamata manusia yg cenderung materialis.

 

Makna Sorga dalam Alkitab:

1. Sorga adalah tempat tinggal (6:9)

a. Tempat tinggal Allah (1Raj 8:30)! Namun bukan berarti Allah dibatasi oleh dinding dinding, Ia melampaui ruang dan waktu (1Raj 8:27)

b. Dosa tidak dituliskan dalam 2 pasala pertama dan 2 pasal terakhir dalam Alkitab. Itulah Sorga, tempat Adam dan Hawa tinggal dan Yerusalem baru tempat org percaya kelak tinggal.

c. Gambaran keindahan sorga (Why 22:18-21)

d. Sorga adalah sebuah tempat yg sangat indah, tiada ratap dan tangis, dan hanya orang percaya yg setia yg akan masuk ke dalamnya. Bapa yg di Sorga yang memiliki Sorga menyediakan tempat bagi kita (Yoh 14 1-3) yg dibangun berdasarkan perbuatan iman kita (1Kor. 3:10).

e. Setiap kita berdoa, Bapa kami yg di Sorga, ingatlah bahwa Bapa sedang berada di rumahnya dan Ia mau kita bersama denganNya, teruslah berdoa.

f. Mengapa sorga digambarkan dengan visual duniawi? Kita hidup di dunia realitas visual dan pengalaman. Membuat apapun yg terlihat indah akan menarik perhatian banyak orang. Itu sebabnya Tuhan menggambarkan Surga sebagai suatu tempat yg sangat indah (Ilustrasi: Warung makan lomba instagramable). Tuhan ingin kita menginginkan sorga, tidak terikat dengan dunia seindah apapun, Ia ingin kita selalu memikirkannya, berjuang, menabung utk dapat menikmatinya (Ilustrasi: menabung utk menikmati makan mewah).

g. Jangan tidak percaya sorga, sebab orang sorga sendiri telah datang menceritakannya (Yoh 14:1). Dunia sementara, jangan terlalu terikat.

 

2. Sorga adalah suasana (6:10)

Sorga bukan hanya tempat, Sorga menggambarkan dan menjanjikan suasana.

a. Di taman di Eden, AH memiliki segala sesuatu yg paling indah di dunia, buah terenak, sungai terindah, batu mulia terindah, apapun. Sehingga selalu ada sukacita, tdk memikirkan mencari nafkah, tdk pusing token listrik. Yang lebih indah, mereka tidak mengenal dosa, mereka hidup dalam kebenaran dan kekudusan, sangat indah. Itu sebabnya Sorga adalah kebenaran, damai sejahtera, sukacita Roh Kudus (Rm. 14:17).

Aplikasi:

l Jangan marah kalau ada yg menyampaikan kebenaran padamu, karna ia sedang menghadirkan sorga dihidupmu.

l Jangan musuhi orang yang menasehatimu, ia ingin engkau menikmati Sorga.

l Jangan tersinggung kalau FT seolah menemplak hidupmu, Firman mau menghadirkan sorga untukmu.

l Paulus pernah beretorika, apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? Galatia 4:16

b. Mau menikmati sorga? hidup dalam kebenaran. Mau tau indahnya sorga? Hidup dalam damai sejahtera, hindari pertengkaran. Mau menikmati sorga? Hidup bergaul dg Roh Kudus. (Yes 32:17)

c. Suasana sorga tiada kenajisan (Why 22:27), tiada ratap tangis (Why 21:4)

 

3. Sorga adalah kesatuan dengan Allah 

a. Keindahan Adam dan Hawa bukan tentang indahnya Eden, melainkan keintiman dengan Allah yg tanpa batas. Hidup bergaul dengan Allah, penuh keterbukaan, tanpa rasa bersalah, tanpa takut, apa adanya.

b. Keindahan sorga bukan karna emas, permata atau apapun, itu hanya aksesoris, pernak pernik, sorga sejati adalah hidup bersama dengan Allah selama lamanya

c. Tidak ada Sorga tanpa Allah, tiada sorga tanpa Kristus. Sorga adalah hidup bersama sama dengan Tuhan Yesus, berada dimana Tuhan Yesus berada (Yoh 14:3)

d. Adam dan Hawa menikmati Surga sejati: Berada di tempat yg sangat indah, berada dalam suasana yg sangat indah (kebenaran, damai sejahtera, sukacita oleh Roh Kudus), daan hidup bersama dengan Allah tanpa batas. 

e. ILUstrasi : Surga digambarkan seperti rumah. Rumah tempat kita berteduh, termpat berkumpul keluarga namun sejatinya rumah adalah keluarga itu sendiri, dimana kita bersama keluarga itulah rumah kita.

f. Dimanapun Yesus berada, saya mau di sana, itulah sorgaku

g. Karena Allah selalu menyertai kita, maka tidak ada tempat yg lebeih dekat dengan Tuhan selain tempat kita berada saat ini. 


…..bersambung

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pencobaan Adam vs Pencobaan Yesus

BAB I PENDAHULUAN Dewasa ini keragu-raguan akan ke-Allahan Yesus Kristus semakin mencuat, baik dari kalangan Kristen maupun non- Kristen. Mereka mengemukakan argumen-argumennya untuk membantah bahwa Yesus adalah Allah. Salah satu kasus yang menjadi pembahasannya adalah ketika Yesus dicobai. Beberapa orang berpendapat bahwa ketika Yesus dicobai di padang gurun oleh iblis, Ia berpotensi untuk berdosa. Mereka menyamakan posisiNya dengan Adam pada waktu di taman Eden. Tetapi kedua hal ini sebenarnya jelas sangat kontras dimana keadaan Adam pada waktu itu adalah dapat berdosa dan dapat tidak berdosa, sedangkan Yesus sama sekali tidak dapat berdosa (bukan tidak mau). Dalam kehidupan sebagai pengikut Kristus, tentu kita diperhadapkan dengan berbagai macam pencobaan dalam berbagai bentuk dan tingkat kesulitan yang berbeda. Sebab seperti Firman Tuhan sendiri berkata bahwa ketika kita memutuskan percaya dan menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat maka itu artinya kita telah siap unt...