BAB
I
PENDAHULUAN
Iman
sering dipandang sebagai suatu yang subjektif, kualitas emotifnya disandari
oleh yang lemah atau yang tidak berpendidikan. Agama adalah candu bagi
masyarakat dan pada umumnya agama adalah bagi mereka yang tidak terpelajar.
Agama seperti tongkat penyangga untuk menyangga orang-orang yang lumpuh secara
psikologis, mereka yang tidak memiliki pandangan tentang dunia nyata yang
ilmiah dan tinggi.
Sesuatu
yang tidak rasional atau tidak masuk akal tidaklah patut untuk dijadikan suatu
kepercayaan atau komitmen pribadi. Memeluk yang tidak masuk akal bukanlah
berpegang pada iman tetapi pada kekonyolan. Suatu hal untuk mempertahankan
bahwa kekristenan adalah rasional. Namun demikian merupakan suatu hal yang sama
sekali berbeda untuk menyamakan kekristenan dengan rasionalisme dalam bentuk
apapun.
Seorang
apologis di abad kedua puluh telah mengamati bahwa gereja telah menjadi curiga
terhadap penalaran karena ia telah mengalami “pengkhianatan dari kaum
intelektual.” Tembakan yang paling keras dari kritikisme utuk melawan
kekristenan historis tidak ditembakkan dari luar gereja, melainkan telah
ditembakkan secara bertubi0-tubi dari dalam gereja. Musuh-musuh Kekristenan
telah melantunkan dalam jangka waktu yang lama, secara terus-menerus bahwa agama
itu berdasarkan pada o,am yang buta dan bukan berdasarkan pada iman yang buta
dan bukan berdasarkan penalaran, sehingga banyak dari jemaat yang telah
mempercayainya.
Kekristenan
berdasarkan pada lebih dari sekadar penalaran manusia saja, tetapi juga tidak
kurang dari penalaran manusia. Meskipun wahyu ilahi membawa kita melampaui
batasan dari perhitungan rasional, tetapi tidak tenggelam di bawah garis
pemahaman rasional. Membela iman dengan kemampuan kita sebaik mungkin bukan
merupakan hal yang berlebihan atau berlimpah dalam intelektual yang sia-sia.
Hal ini adalah tugas yang diberikan pada setiap orang percaya untuk menyaksikan
iman kita kepada dunia. Saya harap buku ini akan menolong pembaca untuk sampai
pada tujuan itu.
Dalam
paper ini kita akan belajar pengalaman dinamika iman seorang rasul yang sekian
lama bersama dengan Yesus, hidup bersama dalam pelayanan. Banyak pengalaman
nyata dan spektakuler yang ia saksikan. Namun, semuanya itu belum meyakinkan
Dia akan kebangkitan gurunya. Namun, kita dapat melihat dari iman Tomas
berdasarkan filsfatnya dan menjadi pelajaran penting bagi iman kita masa kini.
BAB
II
Filsafat
Dan Iman Kristen
2.1.
Pengertian dan Definisi Filsafat
Secara
etimologis, istilah “filsafat” yang merupakan padanan kata falsafah (bahasa
Arab) dan philosophy (bahasa Inggris), berasal dari bahasa Yunani
(philosophia). Kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri kata philos
dan sophia. Kata philos berarti kekasih, dapat juga berarti sahabat. Adapun
sophia berarti kebijaksanaan atau kearifan, dapat juga berarti pengetahuan.
Jadi, secara harafiah berati yang mencintai kebijaksanaan atau sahabat
pengetahuan.
Plato
memiliki berbagai gagasan tentang filsafat, antara lain: Plato pernah
mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih
kebenaran yang asli dan murni. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa filsafat
adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari
segala sesuatu yang ada. Rene Descartes, filsuf Perancis yang termasyur dengan
argument je pense donc je suis atau dalam bahasa latin cogito ergo sum (aku
berpikir maka aku ada), mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu himpunan dari
segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam dan
manusia.
Konsep
atau gagasan dan definisi filsafat yang begitu banyak betapa luasnya
membingungkan, bahkan sebaliknya justru menunjukkan betapa luasnya samudera
filsafat itu sehingga tidak terbatasi oleh sejumlah batasan yang akan
mempersempit ruang gerak filsafat.
2.2.
Fungsi Filsafat
2.2.1.
Bagi Ilmu Pengetahun
Ilmu
pengetahuan dikatakan begitu berjasa bagi kehidupan umat manusia karena lewat
ilmu pengetahuan manusia telah memungkonkan meraih kemajuan yang sangat
menakjubkan dalam segala bidang kehidupan. Teknologi canggih yang semakin
mencengangkan dan fantastis merupakan salah satu produk dari ilmu pengetahuan.
Memang harus diakui betapa pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan sehingga
manusia mulai percaya bahwa ilmu pengetahuan benar-benar mahakuasa. Manusia
semakin terpukau oleh pesona ilmu pengetahuan. Bagi mereka, ilmu pengetahuan
adalah segala-galanya. Mereka berupaya untuk meyakinkan semua orang bahwa ilmu
pengetahuan dapat menyelesaikan persoalan.
Kemajuan
ilmu pengetahuan yang amat mempesonakan itu telah membuat banyak orang menjadi
sinis terhadap filsafat. Orang-orang mulai meragukan filsafat. Banyak orang
yang menganggap filsafat hanya sebagai suatu benda antik yang layak dipajang di
dalam museum. Filsafat tidak dapat menghasilkan sesuatu apapun juga sehingga sama
sekali tidak berguna lagi. Filsafat adalah ilmu tak terbatas karena tidak hanya
menyelidiki suatu tertentu dari realitas yang tertentu saja. Filsafat
senantiasa mengajukan pertanyaan tentang seluruh kenyataan yang ada.
Keterbatasan filsafat yang demikian itulah yang amat berguna bagi ilmu
pengetahuan. Itu karena ketakterbatasan filsafat tidak melulu berguna selaku
penghubung antar disiplin pengetahuan.
2.2.3.
Dalam Kehidupan Praktis
Filsafat
memang abstrak, namun tidak berarti filsafat sama sekali tidak bersangkut paut
dengna kehidupan sehari-hari yang konkret. Keabstrakan filsafat tidak berarti
bahwa filsafat itu tak memiliki hubungan apapun juga dengan kehidupan nyata
setiap hari. Kendati tidak memberi petunjuk praktis tentang bagaimana bangunan
yang artistik dan elok, filsafat sanggup membantu manusia dengan memberi
pemahaman tentanng apa itu artistik dan elok dalam kearsitekturan sehingga
nilai keindahan yang diperoleh lewat pemahaman itu menjadi patokan utama bagi
pelaksanaan pekerjaan pembangunan tersebut.
2.3.
Hubungan Filsafat dengan Iman Kristen
Seorang
kristen memiliki minat khusus dan tanggung jawab untuk memperlajari filsafat.
Filsafat akan memberikan tantangan sekaligus kontribusi baginya untuk memahami
imannya. Beberapa orang Krsiten memandang filsafat dengan curiga karena mereka
pernah mendengar kisah-kisah mengani orang lain yang runtuh imannya karena
mempelajari filsafat. Mereka telah disarankan untuk menghindari filsafat
seperti menghindari wabah penyakit. Sesudah dipikir secara serius, jelas bahwa
saran ini tidaklah bijak. Kekristenan sanggup menghadapi tantangan intelektual
yang menghadangnya. Hasil dari tantangan seharunya bukan runtuhnya iman, namun
justru pemilikan harta yang tak ternilai yaitu iman yang matang yang didasarkan
atas akal sehat yang baik. Lebih jauh, terdapat berbagai akibat serius kalau
gagal menyadari pola pikir masa kini. Bukannya mampu mengelak dari pengaruhnya,
seseorang tanpa sadar justru menjadi korbannya. Malangnya, terlalu banyak orang
Kristen yang berpegang pada keyakinan yang berbahaya bagi iman Kristen tanpa
mereka menyadarinya.
Karena
kebenaran adalah milik Allah dan filsafat adalah upaya untuk mencari kebenaran,
maka filsafat dapa membantu kita dalam memahami Allh dan dunia-Nya. Bahkan
dapat diketahui berdasarkan sejarah bahwa konsep-konsep dan argumen-argumen
filosofis memainkan peranan besar dan penting dalam perkembangan teologi
Kristen. walaupun tidak semua teolog setuju tentang nilai atau ketepatan
argumen-argumen ini, semua sepakat bahwa pengetahuan mengani pokok-pokok
filsafat penting untuk memahami teologi Kristen.
Dalam
Kekristenan, paling tidak ada tiga bagian nilai filsafat. Di tingkat terendah,
filsafat merupakan suatu bentuk kegiatan intelektual, ia menolong membuka
pikiran. Filsafat itu sendiri bukan merupakan hal yang buruk. Beberapa
mahasiswa melontarkan penyataannya bahwa filsafat tidak membawa kita
kemana-mana. Memang begitu banyak gerakan-gerakan filsafat yang besar telah
berakhir di jalan buntuk. Maka paling tidak, studi tentang filsafat akan
menunjukkan di aman letak jalan buntu tersebut. Dan dalam prosesnya, setiap
orang yang telah mengikut mereka dituntut untuk memiliki keteguhan mental yang
semakin tinggi. Ia akan menjadi lebih waspada untuk memperhitungkan mana
argumen-argumen yang sah atau tidak. Yang kedua ialah, studi filsafat bagaikan
suatu latihan navigasi. Ia akan menolong Anda mengetahui di mana Anda berada.
Dengan mempelajari berbagai gerakan filsafat dan memperbandingkannya denganiman
Kristen, kita dapat menentukan posisi kita di dalam peta intelektual. Jika kita
dapat mengetahui sesuatu dari sejaah ide dan berbagai perdebatan yang terjadi
di sekitar ide itu, kita berada pada posisi yang jauh lebih baik untuk
menghargai dan menilai setiap ide dan gerakan di dalam zaman kita.
Dalam
bagian ketiga, mungkin makna penting filsafat Kristen tidak dapat dimunculkan
dengan menggambarkan perbedaan antara bentuk dan isi. Filsafat selalu merupakan
filsafat dari sesuatu yang lain, baik itu filsafat ilmu, filsafat sejarah,
filsafat pengetahuan dan komunikasi. Mereka tidak mempunyai dunianya sendiri.
Sesungguhnya apa yang menjadikan disiplin ini paling penting, dalam setiap
kasus hal ini berurusan dengan pertanyaan terhadap validitas metode dan status
hasil dari disiplin ini. Hal ini sama seprti filsafat agama Kristen.
Studi
filsafat bukanlah tugas bagi mereka yang telah memutuskan untuk keluar dari
kehidupan ini. Merupakan kesalahan kita berpikir bahwa kualitas yang dibutuhkan
hanyalah sikap yang fasik. Banyak masalah-masalah yang tidak terpecahkan.
Keberanian, kesabaran, wawasan dan integritas yang mendalam dibutuhkan mereka
yang akan menjawab masalah-masalah itu. Tetapi karena iman Kristen diyakinkan
bahwa Allah adalah Allah segala kebenaran, maka kita tidak akan putus asa.
Tinjauan
Filsafat Terhadap Iman Tomas
Jika
kita perhatikan situasi yang sedang dihadapi Tomas, maka kita bisa memahami
mengapa ia menjadi ragu. Tomas tidak hadir dalam pertemuan para murid
sebelumnya sehingga tidak melihat langsung Yesus yang diberitakan sudah bangkit.
Sama seperti Maria Magdelena dan murid yang lain, mereka pun percaya bahwa
Yesus bangkit karena mereka sudah ditemui langsung oleh Yesus. Pernyataan Tomas
di ay.25 memperlihatkan 2 hal yang berkecamuk dalam diri Tomas: keraguan yang
besar dan sekaligus antusiasme yang besar untuk menemukan kebenaran. Tomas
menolak untuk mengatakan bahwa ia mengerti apa yang sebenarnya ia tidak
mengerti, atau percaya pada apa yang sebenarnya tidak ia percayai. Dia tidak
mau menjadi orang yang memiliki iman yang buta, yang tidak didasarkan pada
kebenaran yang ia ketahui.
Di
sisi lain, keraguan yang dimilikinya inilah yang menghantar Tomas untuk sampai
pada keyakinan yang tidak setengah-setengah. Setelah Yesus benar-benar hadir di
hadapannya, Tomas tidak melakukan apa yang pernah dia katakan, tetapi justru
berkata “Ya Tuhanku dan Allahku!” sebagai pernyataan imannya. Tomas ragu untuk
menjadi yakin, dan bila ia sudah yakin, ia menyerahkan diri sepenuhnya pada
keyakinan itu. Bagaimana dengan kita yang hidup pada zaman ini? Yesus berkata,
“...berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Kalimat ini bukan
untuk meremehkan iman Tomas, tetapi ditujukan kepada kita yang tidak melihat
Yesus secara langsung. Kita diajak untuk percaya, yaitu melalui apa yang
tercatat dalam Injil (ay.30-31). Jika keraguan itu muncul, maka keraguan itu
seharusnya mendorong kita untuk menemukan kebenarannya dalam Alkitab dan pada
saat kebenaran itu dihadapkan pada kita, kita mau menundukkan diri untuk
percaya pada kebenaran Injil sama seperti Tomas. Keraguan kita bukanlah
keraguan yang didasarkan pada sesuatu yang sensasional belaka atau
pemberontakan terhadap kebenaran, melainkan keraguan yang menunjukkan
antusiasme kita menemukan kebenaran yang tidak setengah-setengah.
LATAR BELAKANG KEHIDUPAN TOMAS
Nama
Tomas diambil dari bahasa Aram yakni te oma yang artinya anak kembar, di
Alkitab tidak disebutkan siapa nama kembaran Thomas, namun ada yang mengatakan
bahwa saudara kembarnya itu adalah Yudas, sudah pasti bukan Yudas Iskariot.
Dilihat
dari porsi penulisan di Alkitab, terutama Perjanjian Baru, sebenarnya Thomas
bukan seorang murid yang menonjol. dibanding dengan Petrus, Andreas dan Yudas
Iskariot. Maka Thomas kelihatannya kurang begitu berperan. Thomas ini ibarat
seorang pemain figuran dalam sebuah film , nama Thomas muncul dalam kitab Injil
hanya beberapa kali saja. Thomas seperti seorang aktifis yang melayani di
dibelakang layar.
Dalam Injil Sinoptik
nama Thomas hanya dalam daftar silsilah saja. Sedangkan Yohanes menulis dengan
porsi yang lebih banyak tentang Thomas yakni ada tiga kejadian yang cukup
menarik dan membuat Thomas makin dikenal. Dalam daftar murid-murid Yesus,
rupanya para murid terbagi menjadi tiga kelompok, masing - masing 4 orang, nama
Thomas terdapat dalam kelompok kedua (Matius 10:2-4, Mrk 3:16-19; Luk 6:14-16;
Kis 1:13). Dalam Mat 10:3 Thomas dihubungkan dengan Matius, sedangkan dalam
Kisah 1:13 Thomas dihubungkan dengan Filipus. Injil Yohanes tiga kali memakai
terjemahan Yunaninya menyebut sya dengan panggilan "Didimus" (lih Yoh
11:16; 20:24; 21:2).
Rupanya
Yohanes tidak lupa mencatat tentang kesiapan Thomas menemani Yesus pergi ke
kuburan Lazarus, dan barangkali ke jantung maut, yaitu tangan orang Yahudi (Yoh
11:6). Tampaknya ini satu sisi Thomas yang tidak dimiliki oleh murid-murid
lain, termasuk Petrus yang terkenal omong besarnya. Memang kadang Thomas tidak
dapat memahami apa yang Yesus maksudkan di dalam perkataanNya, tatkala Yesus
mempersiapkan murid-murid-Nya perihal kepergian-Nya yang akan datang, Thomas
sempat bingung bagaimana caranya mereka menuju ke sana (Yoh 14:5), inilah
kebodohan Thomas, padahal jelas sekali Yesus adalah Anak Allah, Dia yang akan
mempersiapkan tempat untuk mereka.
Peristiwa
penting yang memalukan yang justru membuat Thomas terkenal dan menjadikan gelar
Thomas "Tomas yang tidak percaya"
ialah tatkala Thomas tidak dapat percaya perkataan teman-teman yang
mengatakan Yesus sudah bangkit dari kubur. Waktu Yesus menampakkan diri kepada
teman-teman yang lain, kebetulan Thomas tidak ada (Yoh 20:24). Tampaknya Thomas
terlebih suka berpikir secara logika yang
membutuhkan bukti riil (nyata) dan yang dapat diraba (disentuh) mengenai
kebangkitan itu. Yang membuat Thomas lebih malu lagi adalah, seminggu kemudian
Yesus menampakkan diri lagi kepada kami, waktu itu Thomas sudah ada di sana.
Pada saat itulah, Thomas mengaku benar Yesus telah bangkit (Yoh 20:28). Inilah
merupakan puncak Injil Yohanes; dijanjikan ada berkat bagi anda sekalian yang
percaya tanpa dasar penglihatan.
3.2.
Berbagai Pandangan Tentang Iman Tomas
Setelah
kita mengenal sepintas tentang Tomas, kita melihat lebih jelas dalam tentang
bagaimana kehidupannya yang sungguh-sungguh dengan Tuhan. Apakah benar ia
seorang yang ragu-ragu? Apakah ia seorang penakut? Penulis mencatat ada tiga poin
penting yang akan kita pelajari : Dalam tulisan ini, penulis mencoba memahami
kehidupan Thomas dalam perspektif filsafat. Sebab banyak pembaca Alkitab hanya
menyoroti keragua-raguan Thomas sebagai suatu kelemahan pribadi Thomas. Tetapi
penulis melihat bahwa iman Thomas menunjukkan filsafat hidup yang cukup menarik
untuk dibahas.
Tomas
Menjadi Berani di Saat Ketakutan
Coba
kita perhatikan kembali Yohanes 11: 3 di sini diceritakan bahwa Lazarus kerabat
akrab Yesus yang tinggal di Betania itu sedang sakit (perhatikanlah bahwa jarak
antara Yerusalem dan Betania diperkirakan 3 Km). Lalu kalau kita melihat ayat
7b, ketika Yesus sudah mendengar berita tentang Lazarus sudah mati maka IA
mulai mengajak murid-murid-Nya kembali ke Yudea. Namun kita bisa tebak bahwa
para murid pasti keberatan ke sana, kata mereka "Rabi, baru-baru ini
orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke
sana?". Pertanyaan ini cukup logis dan masuk akal, sebab apabila mereka
kembali ke Yudea, itu berarti mencari masalah baru, agak kasar kita katakan
mereka mau mencari mati, ya nggak apa-apa ke sana?. Kemungkinan besar mereka
bisa dibunuh di sana sebab kejadian beberapa waktu yang lalu Yesus nyaris saja
dibunuh ditempat itu. Sekarang mereka harus kembali ke sana, apa-apaan ini.
Ibarat
kita membuat program misi gereja ke Negara yang sedang berperang, sudah pasti
banyak yang tidak setuju, karena sangat mebahayakan nyawa. Walaupun kita tahu
pasti Tuhan Yesus pasti melindungi kita, namun kita diberikan hikmat untuk memutuskan
dan melakukan yang terbaik.
Namun
pada suasana tegang itu, tiba-tiba tanpa diduga di ayat 16, Tomas mengatakan
"Marilah kita pergi juga mati bersama-sama Dia. Kelihatannya diantara
murid-murid, Tomaslah yang paling peka mengetahui Guru-Nya segera mati, namun
heran justru Tomas ini yang paling lamban percaya bahwa Yesus sudah bangkit.
Kabar suka-cita dari Petrus bahwa mereka telah melihat Yesus bangkit tidak
dipercayainya. Ayat ini jelas sekali menyatakan bahwa Tomas ibarat pahlawan
yang penuh pasrah; tatkala ia kepepet dan terpojok. Ditengah-tengah ketakutan,
telah lahir sikap pemberani dari seorang anak manusia.
Tomas
Menjadi Ragu Di Saat Ketidakpastian
Ketika
pada hari yang ke tiga Tuhan Yesus bangkit dari kubur, IA menampakkan diri
kepada murid-murid-Nya. Secara kebetulan Tomas tidak hadir dalam pertemuan itu.
Oleh sebab itu murid-murid Yesus menceritakan kepada Tomas kejadian yang
menarik ini. Bagi Tomas, kesempatan melihat Tuhan Yesus adalah suatu kesempatan
yang sangat berharga. Ia seakan-akan merasa sangat menyesal mengapa tidak hadir
dalam pertemuan tersebut. Berkatalah Tomas untuk menghibur diri sendiri :
"Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku
mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam
lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya" (baca Matius 20:25).
Tomas
mengatakan Ou me pisteuso yang artinya "Thomas tidak mau dan tidak dapat
percaya". Kalimat inilah yang keluar dari mulut bibir Tomas dan ini
menunjukkan betapa kerdil iman percayanya terhadap kata-kata Yesus yang pernah
disampaikan kepada mereka beberapa hari yang lalu. Karena ketidakpercayaannya
itu juga Tomas harus hidup selama seminggu dalam kebimbangan.
Bagi Tomas orang
satu-satunya yang dapat menjadi tempat bersandar sudah tiada, ditambah kematian
Tuhan Yesus yang cukup mengenaskan, disalibkan di atas kayu salib. Bagaimana
mungkin IA dapat begitu cepat bangkit dan menampakkan diri? Padahal yang
menceritakan hal ini semua rekan-rekannya, tetap saja ia ingin bukti atau melihat
dengan mata kepala sendiri.
IMAN TOMAS DALAM TINJAUAN FILSAFAT
Sikap
Thomas yang Pesimis dan Berani
Thomas adalah seorang yang pesimis. Beberapa orang gembira
ketika melihat gelas yang berisi setengah, tetapi Thomas melihat gelas itu
setengah kosong. Thomas penuh dengan keberanian, tetapi kadang memiliki
kesalahan yang fatal. Dulu, ketika Yesus dan para murid-Nya mendengar kabar
kematian teman mereka, Lazarus, di dekat Yerusalem -- daerah yang merupakan
pusat daerah yang menentang Yesus -- Thomas segera berkomentar, "Ya, ayo
pergi ke sana sehingga kita bisa mati bersama dia." Perkataannya hampir
seperti nubuatan.
Tak lama setelah itu, dunianya seperti runtuh. Thomas
melihat Gurunya ditangkap di taman Getsemani dan dia lari menyelamatkan diri.
Pada hari Jumat siang, dia melihat dari kejauhan ketika orang-orang memaku
Temannya pada sebuah salib di Bukit Golgota, tempat yang digunakan oleh
orang-orang Roma untuk membunuh. Ketika hidup Yesus berakhir, berakhir pulalah
harapan Thomas.
Keterkejutan
dan Tidak Percaya
Pada hari Sabtu, dia masih terguncang. Pada hari Minggu, dia
merasa sangat kecewa sehingga dia tidak berkumpul bersama para murid lainnya
untuk makan malam. Thomas bingung, terluka, merasa sedih, dan mencaci. Senin
pagi, para murid pergi mengunjungi Thomas dan menceritakan kepadanya apa yang
terjadi ketika dia tidak bersama-sama dengan mereka.
"Thomas, kami sedang berada di ruang atas di mana kita
biasa mengadakan pertemuan. Kami mengunci pintu demi keamanan. Tapi tiba-tiba,
Yesus menampakkan diri. 'Salam, damai sejahtera,' kata-Nya. Kemudian Dia
memperlihatkan tangan-Nya kepada kami. Di tangan itu terlihat lubang bergerigi
bekas paku. Dia membuka jubahnya dan menunjukkan kepada kami di mana bekas
tombak menembus di dada-Nya. Tetapi Dia tidak lemah atau sakit bahkan
meninggal. Dia hidup, bangkit dari kematian!"
Takut
Menjadi Percaya
"Aku tidak memercayainya," bentak Thomas.
"Aku tidak percaya semua perkataan itu. Kalian melihat apa yang kalian
ingin lihat. Yesus sudah meninggal. Aku melihat Dia meninggal, dan sebagian
dari diriku meninggal bersama dengan Dia. Dia sudah meninggal, semakin cepat
kalian menerima kenyataan ini, kalian akan semakin baik. Terimalah!" Petrus
membela diri, "Thomas, aku beri tahu kamu, aku melihat Dia sendiri, dan
Dia benar-benar nyata seperti kamu!" Thomas tetap dingin, dengan suara
yang dingin seperti es, ia berkata, "Sebelum aku melihat lubang paku di
tangan-Nya dan meletakkan tanganku ke dalamnya, aku tidak akan percaya." Tetapi
kemarahan Thomas segera mereda, dan pada Minggu sore dia makan bersama para
murid lainnya di sebuah ruang yang sama yang dikunci rapat. Tiba-tiba, Yesus
sekali lagi berdiri di antara mereka dan berkata, "Salam, damai sejahtera
bagimu."
Darah serasa mengalir dari wajah Thomas. Yesus mendekati dia
dan segera berkata, tanpa menunjukkan benci atau sindiran, "Letakkan
jarimu di sini, lihatlah tangan-Ku." Yesus menunjukkan tangan-Nya yang
terluka supaya Thomas bisa melihatnya. Thomas melompat. Bukan karena takut,
sungguh, tapi karena ketakjuban dan reaksi perubahan perasaannya yang mendadak
dan bercampur menjadi satu. Yesus kemudian membuka bagian luar pakaian-Nya dan
berkata, "Sentuhkanlah tanganmu dan masukkan ke lambung-Ku. Berhentilah
untuk meragukannya dan percayalah."
Tuhanku
dan Allahku
Saat itu juga, Thomas menangis hingga tersedu-sedu. Yesus
mendekat dan meletakkan tangan-Nya ke bahu Thomas. Kemudian Thomas bersujud di
kedua lututnya dan berkata dengan hormat, "Tuhanku dan Allahku!" Thomas,
"Thomas yang ragu-ragu", demikian dia biasa disebut, adalah murid
pertama yang menyebutkan kebenaran bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah.
"Thomas yang ragu-ragu" memberikan pengakuan yang terbesar yang
dicatat di mana pun di dalam Alkitab. Yesus menjawab, "Karena engkau telah
melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat,
namun percaya."
Akhir
Hidup Tomas
Apa yang terjadi dengannya? Thomas yang ragu-ragu tidak
selamanya menjadi orang yang ragu-ragu. Ketika dia melihat Yesus yang telah
bangkit, semua yang telah Yesus ajarkan selama bertahun-tahun sekarang menjadi
genap, dan melalui kematian-Nya, Thomas menjadi pembawa kabar yang setia atas
Tuhan-Nya. Cerita gereja mengatakan bahwa dia berkhotbah di Babilonia kuno,
dekat sungai Efrat dan Tigris, yang sekarang menjadi Irak. Dia melakukan
perjalanan ke Persia, yang saat ini menjadi Iran, dan terus memenangkan para
murid ke dalam iman Kristen.
Pada tahun 52 SM, dia berlayar ke selatan menuju Malabar di
sebelah barat pantai India. Dia mengajar, mendirikan gereja-gereja, dan memenangkan
jiwa-jiwa dari kasta yang utama, Brahmana, dan kasta-kasta lainnya bagi
Kristus. Ketika Portugis mendarat di India pada awal tahun 1600, mereka
menemukan kelompok orang Kristen di sana -- Gereja Mar Thoma didirikan setelah
Thomas berkhotbah pada 1500 tahun sebelumnya.
Akhirnya, Thomas mengadakan perjalanan ke sebelah timur
pantai India, mengajar dengan tak henti-hentinya. Sekitar tahun 72 SM, dia
dibunuh di dekat Mylapore, di daerah yang sekarang disebut Madras. Menurut
cerita, dia dibuang ke dalam sebuah lubang, kemudian ditusuk dengan sebuah
tombak oleh seorang Brahmana. Dia, yang dengan kuat menyatakan
ketidakpercayaannya, menyampaikan pesan kekristenan tentang kasih dan
pengampunan hingga ke ujung dunia pada masa hidupnya.
Thomas berbicara kepada orang-orang yang saat ini ragu-ragu,
mereka yang ada di antara kita yang telah melihat harapan-harapan dan
mimpi-mimpi kita dihancurkan. Thomas si ragu-ragu akan menceritakan kisahnya
tentang bagaimana hidup Yesus telah merasuk ke dalam hidupnya sendiri. Dia akan
menceritakan kepada kita tentang ketakutan-ketakutan dan keragu-raguannya. Dan
kemudian, dengan wajah yang berseri-seri, penuh sukacita, Santo Thomas, rasul
yang mengadakan perjalanan ke India, akan menceritakan tentang sukacitanya saat
melihat dan mengetahui sendiri kebangkitan Yesus. Dia akan berkata:
"Tuhanku dan Allahku! Tuhanku dan Allahku!"
Sejarah
Tomas dengan efektif dapat membuang pikiran yang bodoh namun yang banyak
disalahgunakan, yaitu murid-murid itu adalah sekelompok orang-orang bersemangat
yang hanya siap untuk mempercayai apapun yang didikte oleh perasaan hati
mereka. Para murid itu bukanlah ahli logika dn terlatih dalam mengemukakan
bukti-bukti. Akan tetapi mereka bukanlah sekelompok orang-orang bodoh. Mereka
adalah orang-orang yang keras kepala yang segan untuk mempercayai kebangkitan,
walaupun mereka sangat ingin melihat guru mereka kembali. Ketika
perempuan-perempuan itu memberitahukan pada mereka tentang kubur yang kosong
maka bagi mereka perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak
percaya kepada perempuan-perempuan itu (Luk. 24:11). Salah satu diantaranya
yang menolak dengan tegas adalah Tomas. Sehingga tanpa alasan, Tomas dinamakan
si rasionalis dari kelompok rasul. Ia disamakan dengan orang-orang yang
menyatakan bahwa mereka memiliki kecakapan atau kecerdasan yan gulung karena
mereka cenderung menyangsikan apa yang dipercayai orang lain.
Benar
bahwa Tomas meminta tanda-tanda, terutama untuk bukti tetapi untuk menyamakan
dia dengan seorang rasionalis, orang yang suka sangsi berarti kita berlaku
sangat tidak adil terhadap Tomas dan kita memutarbalikkan isi Kitab Suci.
Perbedaan antara seorang rasionalis dengna Tomas adalah: kehendak si rasionalis
itu agar tidak percaya, sedangkan Tomas ingin percaya. Seorang rasionalis yang
sejati dihasilkan karena pelajaran, karena menyelidiki bukti-bukti, karena
adanya batas-batas dunia nyata yang mendesak, yang membuat dunia lain itu
kelihatan seperti khayalan saja; tetapi kesangsian Tomas adalah kesangsian yang
lahir dari rasa dukacita.
Keragu-raguan
Tomas bukanlah keragu-raguan seorang yang suka berdalih atau seorang murid yang
tak pernah menjadi ahli. Kesangsian Tomas adalah kesangsian seorang yang telah
kehilangan Tuhan dan Gurunya. Seandainya kesangsian Tomas hanya sekadar meminta
tanda dan bukti belaka, maka Yesus pasti sudah menjawabnya seperti yang Ia
lakuakn kepada peragu-peragu lain (dengan menyebut mereka angkatan yang jahat
dan tidak setia yang menuntut suatu tanda). Tomas bukanlah seorang Saduki;
tidak ada bukti bahwa ia tidak percaya pada kebangkita sebagaimana biasanya
anggapan di israel pada waktu itu. Tomas memang meragukan kebangkita tetapi
ketika ia dihadapkan pada kematian Yesus, kesangsian yang dikarenakan dukacita
itulah yang meliputi hatinya.
Tidak
ada dasar lain yang dapat kita pakai untuk mengerti cara yang lembut dan indah
sekali yang digunakan Yesus dalam menghadapai dia dengan memberikan kepadanya
apa yang ia minta. Meskipun Tomas menyatakan bahwa ia harus memeriksa luka-luka
Tuhan, namun demikian ia tidak jadi memeriksanya. Kehadiran agung Kristus yang
bangkit itu laksana banjir menghanyutkan semua kesangsian. Ia jatuh tersungkur
di kaki Yesus dan berseru dengan penuh pujian, “Ya Tuhanku dan Allahku!”
Dinamika iman rasul Tomas menjadi
pelajaran berharga pertama-tama bagi penulis sendiri, yang juga pasti sama
dengan orang Kristen pada umumnya. Di satu pihak orang Kristen akan merasa
pasti akan pengetahuan manusia selama ia bergantung pada wahyu Allah. mendasari
filsafat kita atas Allah dan wahyu-Nya berarti menerima secara pasti hal-hal
itu telah diwahyukan. Namun di sisi lain, ada ketidakpastian dalam diri orang
Kristen. sebab dia menyadari bahwa ia tidak mampu untuk meresapi pengetahuan
dari segala sesuatu. Ini berkenaan dengan hal-hal yang melampaui akal budinya.
Comments
Post a Comment