SATU ALKITAB DUA PERJANJIAN
Dr. David L. Baker
Pandangan PL
Salah satu aspek PL yang paling penting
adalah pengharapannya akan masa depan.
a. Perkembangan
pengharapan masa depan
Pengharapan akan masa
depan dapat dilihat dalam beberapa bagian dalam PL, khususnya dalam kitab-kitab
pentateukh. Pengharapan itu meliputi harapan berkat-berkat jasmani dan rohani.
Sedangkan harapan perubahan radikal baru muncul kemudian. Pengharapan ini
didasari oleh karya Allah dalam sejarah Israel di masa lalu pun dimasa yang
akan datang.
b. Eskatologi
Para Nabi
Pengharapan akan
keselamatan atau yang bersifat eskatologi dalam konteks sempit banyak
dibicarakan oleh para nabi pada masa pembuangan. Israel mengenal hari Tuhan,
dan berbicara hari Tuhan bangsa Israel mengenalnya sebagai hari dimana Allah
campur tangan atas Israel. Dan pengharapan eskatologi utama Israel tertuju pada
seorang tokoh yang diutus Allah sebagai pembebas sekaligus raja mereka, dialah
Mesias.
c. Eskatologi
Apokaliptik
Tampaknya ada
perkembagnan dalam eskatologi Israel menuju apokaliptik, perkembangan ini di
latar belakangi oleh kekecewaan yang mendalam dari bangsa itu dimana Mesias
yang diharapkan tak kunjung datang.
d. Pengharapan
dan Ketegangan
Hingga berakhirnya masa
Perjanjian Lama, pengharapan masih dinantikan disertai ketegangan-ketegangan
yang tak terpecahkan. Penulis PL berpendapat bahwa Allah berdaulat atas sejarah
dunia namun secara praktis tampaknya tujuan-Nya belum terpenuhi karena
terhalang dosa.
Pandangan Perjanjian Baru
Perjanjian Baru yakin bahwa Mesias yang
dijanjikan di Perjanjian Lama telah lahir dan umat-Nya akan diperbarui.
a. Yesus
dan PL
Pribadi-pribadi,
pranat-pranat, pengalaman-pengalaman Israel pada masa PL dilihat sebagai tipe
pribadi dan karya Yesus. Pada satu sisi Yesus menegaskan otoritas PL yang mutlak
(Mat. 5:17-20; 22:34-40), pada sisi lain Dia berani mempertajam maupun
membatalkan beberapa ketentuan (Mat. 5:21-48; Mrk. 7:14-23). Tetapi menurut
saya pendapat ini terlalu ekstrim, sebab Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia
tidak membatalkan apa yang tertulis di PL melainkan menggenapinya.
b. Struktur
Dasar Teologi Kristen
Menurut Dodd, jemaat
Kristen mula-mula mengembangkan suatu metode pemahaman ALkitab yang baru dengan
menafsirkan beberapa nats PL sebagai kesaksian tentang KRistus. Bagian-bagian
PL ini dan tafsirannya dalam PB mengandung konsep-konsep pokok tentang Kristus
yang merupakan struktur dasar teologi Kristen.
c. Penafsiran
PL oleh PB
Menurut Assler ciri
penafsiran PL oleh penulis PB ialah”
·
Mereka memilih
orientasi dasar yang sama terhadap Perjanjian Lama dan menyadari bahwa makna
peristiwa-peristiwa Injil hanya dimengerti dengan jelas dalam terang PL;
·
Mereka mengakui PL
sebagai kesaksian yang meneguhkan kesaksian mereka sendiri;
·
Mereka menegaskan PL
sebagai kesaksian yang sudah direncanakan lebih dahulu, suatu janji yang
menunjukkan makna teologis peristiwa-peristiwa dalam sejarah keselamatan
sebelum peristiwa-peristiwa tersebut terjadi; dan
·
Mereka menafsirkan PL
sebagai kesaksian tentang penataan dan penyelamatan Allah dalam sejarah.
d. Penggenapan
dan Pemecahan
Salah satu aspek pokok
dari pemberitaan PB ialah bahwa Yesus menggenapi harapan-harapan PL, bahwa
dalam PL ada ketegangan-ketegangan yang tak terpecahkan. Dalam buku ini penulis
memaparkan masalah, seperti yang terjadi dalam jemaat Kristen mula-mula yaitu
ketegangan antara orang Yahudi dan bangsa lain, antara umat Israel dan umat
Kristen, masalah peran Yesus sebagai Mesias. Tetapi penulis belum membahas
masalah-masalah tersebut lebih mendetail.
KEDUA
PERJANJIAN DALAM SEJARAH PENAFSIRAN
Jemaat Mula-mula
Tokoh
PB seperti Yesus, Petrus dan Paulus mengandalkan PL sebagai dasar iman mereka
dan yang menjadi masalah bagi mereka ialah bagaimana menghubungkan
peristiwa-peristiwa baru yang mereka alami dengan peristiwa-peristiwa pada
zaman PL. Menurut saya hal ini tak berlaku bagi Yesus, sebab kita percaya bahwa
Yesus tahu betul keberadaan-Nya sebagai penggenap PL. Masalah yang muncul dalam
jemaat justru sejauh mana PL masih berlaku dan relevan sesudah PB lengkap dan
bagaimana hubungan PL dan PB harus dimengerti?
PL
dan PB bagi bapa-bapa gereja merupakan satu Alkitab, meskipun kanon belum
ditetapkan sepenuhnya. Tetapi tidak bagi Marcion yang berpendapat bahwa tak ada
kesinambungan yang radikal antara PL dan PB. Sehingga ia membuang PL dan
beberapa bagian dari PB yang tidak sesuai dengan teorinya. Teori Marcion
ditolak oleh beberapa ahli Alkitab sperti Irenus, Tertuliannus, Origen, dan
Clemens, meskipun beberapa dari beberapa dari mereka ini kerapkali menggunakan
tafsiran alegoris. Tokoh lain seperti Theodorus dan Augustinus meyakinkan PL
sebagai bagian dari dari Alkitab Kristen. Pandangan mereka disebut sebagai
pandangan ortodoks dengan menggunakan pendekatan harfiah dan tipologi.
Abad Pertengahan
Pendekatan-pendekatan
yang dipakai oleh ahli-ahli pada masa ini adalah pendekatan harfiah, alegoris,
moral dan anagogis. Mereka setuju bahwa PB berkesinambungan dengan PL walaupun
mereka juga menganggap bahwa PB masih lebih unggul dari PL.
Reformasi
Luther
dan Calvin yang disebut-sebut sebagai tokoh reformasi gereja terlebih suka
memakai tafsiran harfiah dan menekankan Kristosentris dalam Alkitab. Hal ini
terlihat dari karya-karya mereka yang merupakan tafsiran dan eksposisi. Bahkan
aliran reformasi yang lain seperti anabaptis dan dalam konsili trente melihat
hubungan antara kedua Perjanjian ialah bahwa kesatuan Alkitab diakui yang dapat
dilihat dari rangka janji dan penggenapannya, tetapi hampir tidak ada tempat
bagi penelitian lebih lanjut karena penafsiran tradisional harus diterima dan
tidak boleh dipertanyakan. Situasi ini tidak banyak berubah hingga pertengahan
abad kedua puluh.
Abad ke-17 hingga abad ke-19
Reformasi
membangkitkan perhatian yang besar untuk mengkaji ALkitab secara
sungguh-sungguh, walupun cara yang benar untuk mengerti hubungan antara kedua
perjanjian sama sekali belum tuntas. Kemudian muncullah pertentangan antara
penganut konservatif yang mempertahankan pandangan ortodoks dengna
pmeikir-pemikir yang lebih progresif. Sejak remorfasi maka banyak
pemikiran-pemikiran yang baru lahir. Tak puas dengan cara-cara penafsiran
tradisional para ahli pun mengembangkan penelitiannya dengan mengandalkan
penelitian bahasa dan sejarah. Bukan hanya itu bahkan lahir inovasi baru
seperti Schleiermacher yang berusaha menukar tempat PL dengan PB dengan maksud
menunjukkan keutamaan PB.
Dalam
perkembangannya, para pakar Alkitab mulai melihat hubungan kedua perjanjian
dengan pendekatan-pendekatan yang lebih modern. Adapun pendekatan modern itu
adalah:
A. Perjanjian
Baru Sebagai Alkitab yang Hakiki
Pendekatan
ini diteliti oleh Rudolf Bultmann, berkebangsaan Jerman yang terkenal pada
pertengahan abad kedua puluh. Bultmann tidak menganggap PL sebagai kitab
Kristen tetapi ia menerimanya sebagai prasyarat atau praanggapan bagi PB. Bultmann
melihat kedua perjanjian dengan cara melihat makna PL bagi iman Kristen
kemudian ia membahas tentang “nubuat dan penggenapan”.
Dalam
buku ini saya melihat bahwa Bultmann tidak menilai pendekatan itu secara umum,
melainkan hanya menunjukkan bahwa pendekatan itu menyangkut hubungan historis
antara agama-agama kedua perjanjian dan tidak ada kaitannya dengan hubungan
teologis. Kemudian ia mengembangkan suatu pendekatan yang lebih bersifat
teologis dengan mempertanyakan makna PL bagi iman yang meyakini penyataan Allah
dalam Yesus Kristus.
Bagi
Bultmann PL bukanlah penyataan Allah bagi orang Kristen dalam arti historis dan
juga bukan dalam arti eskatologis seperti yang dimengerti dalam PB. PL
mengandung suatu pemahaman tentang eksistensi manusia yang bersifat normative
bagi kehidupan Kristen, yakni hakikat manusia sebagai ciptaan serta dosanya.
Orang yang beriman melihat di dalam PL gambaran eksistensinya sendiri dan
menerimanya sebagai firman Allah. Dengan demikian secara tak langsung PL dapat
dipandang sebagai penyataan Allah bagi iman Kristen dengan syarat: PL harus
digunakan secara harfiah dan hanya sejauh benar-benar menjadi persiapan bagi
pemahaman Kristen akan eksistensi manusia.
Mengenai
nubuat dan penggenapan, Bultmann melihatnya dalam sudut pandang ramalan,
sejarah dan “Perjanjian, kerajaan dan umat Allah.” Berdasarkan penelitian
ketiga konsep tersebut, Bultmann mengembangkan pengertian nubuat sebagai
kegagalan dan janji. Kegagalan sejarah ini menunjukkan bahwa tidak mungkin
mewujudkan perjanjian, kerajaan Allah dan umat Allah di tengah-tengah Israel
sebagai persekutuan historis. Maka penggenapan bukanlah hasil perkembangan
sejarah tetapi akibat pertemuan dengan anugerah Allah.
Dalam
buku ini, penulis memperkenalkan 4 orang ahli lainnya dengan pandangan mereka
mengenai hubungan kedua perjanjian. Dan disimpulkan bahwa mereka setuju dengan
Bultman yaitu bahwa PB adalah Alkitab hakiki dan PL sedangkan PL hanyalah
sebagai prasyaratnya yang bukan Kristen tetapi yang tetap bermanfaat asal
dimengerti dalam terang PB. Bahkan seorang diantara keempat ahli tersebut yaitu
Emanuel Hirch dengan ekstrim menyingkirkan hubungan kedua perjanjian.
B. Kedua
Perjanjian Sama-sama Kitab Suci Kristen
Pendekatan
yang kedua ini bersifat lebih soft dengan menerima kedua perjanjian sebagai
Alkitab Kristen. Wilhelm Vischer berpendapat bahwa memang ada hubungan antar kedua perjanjian, sebab ia
melihat bahwa PL juga memberi kesaksian tentang Yesus Kristus yang terang
dijelaskan dalam PB. Untuk melihat hubungan keduanya, Vischer menggunakan
pendekatan historis dan linguistic yang didasarkan pada metode ilmiah yang
kokoh. Tetapi dalam tafsirannya Vischer sering dikritik karena banyak
tafsirannya yang masih spekulatif. Dalam karyanya dia berusaha melihat Yesus
sebagai Kristus yang dinantikan PL. Jadi PL bukanlah suatu penyataan yang berdiri
sendiri melainkan puncaknya berada di luar dirinya, yaitu dalam penyataan
Kristus dalam PB.
Selain
Vischer, penulis mencantumkan beberapa ahli lain yang juga melihat hubungan
kedua perjanjian dengan melihat pribadi Yesus sebagai kunci penyatu kedua perjanjian.
Mereka adalah Karl Barth, Edmond Jacob, George A. F. Knife, dan Brevard S.
Child.
C. Perjanjian
Lama sebagai Alkitab yang Hakiki
Ini
adalah pendekatan oleh Arnold A. van Ruler yang melihat hubungan antara PL dan
PB sebagai hubungan prioritas. Berkenaan dengan masalah hubungan antara PL dan
PB sebagai kitab suci Kristen dan masalah PL sebagai kitab Israel, Van Ruler
tidak memberi opini sebagai usaha penyelesaian kedua masalah tersebut. Tetapi
ia menjelaskan bahwa otoritas kedua perjanjian harus diakui dan walaupun PL
menjadi penyataan bagi bukan orang-orang Yahudi melalui Yesus Kristus, namun
umat Israel tetap ada dan memiliki peranan yang penting dalam sejarah Allah
bersama dunia. Melalui pendekatannya, van Ruler menetapkan 5 dalil utama;
·
ada ketidakserasian
antara kedua perjanjian;
·
PL memiliki kelebihan
dibandingkan dengan PB;
·
Yesus KRistus adalah
suatu tindakan darurat dalam sejarah Allah dengan Israel;
·
ajaran tentang
penciptaan lebih penting daripada ajaran tentang penyelamatan; dan
·
kerajaan Allah adalah
konsep utama PL.
D. Kedua
Perjanjian Sebagai Satu Sejarah Keselamatan
Dan
pendekatan modern terakhir ialah mereka yang melihat kedua perjanjian sebagai
satu serajah keselamatan. Pendekatan oleh Gerhard von Rad yang melihat hubungan
PL dan PB dalam konsep sejarah keselamatan.
Menurut von Radd dasar sejarah keselamatan Israel terdapat dalam
pengakuan-pengakauan yang mula-mula (Ul. 26:5b-9) dan secara hakiki menyangkut
iman dan bukan fakta. Dalam analisanya
von Rad juga menggunakan pendekatan yang mencakup konsep-konsep sejarah
tradisi, sejarah keselamatan dan aktualisasi. Dalam pendekatannya von Rad
memiliki kelemahan mendasar seperti pandangannya tentang sejrah dan realitas
sejarah keselamatan. Selain itu ada dua aspek pendekatan von Rad yang lain yaitu
tipologi serta janji dan penggenapan.
Studi banding dalam bab ini, beberapa tokoh yang lain
juga sejalan dengan von Rad yang cenderung merumuskan hubungan antara kedua
perjanjian itu dengan istilah “perjalanan-perjalanan iman” dan “titik temunya”
pada Yesus dari Nazaret.
Itulah
ringkas dari keempat pendekatan modern yang dipaparkan dalam buku ini.
Dalam
bab selanjutnya penulis menjelaskan mengenai tiga tema kunci yang dapat
dipelajari untuk dapat melihat hubungan antar PL dan PB.
A. Tipologi
Memanfaatkan
pendekatan tipologi dalam memahami hubungan teologis antara PL dan PB
bergantung seutuhnya pada apa yang dimaksudkan dengan istilah tersebut. Penulis
buku menyajikan suatu penelitian semantik, teologis dan hermeneutis tentang
dasar dan sifat tipologi. Dasar tipologi yaitu memperhatikan defenisi dari
tipologi itu sendiri dalam Alkitab, yaitu “contoh dan teladan”, melihat unsur
analogi dan persesuaian, juga ilustrasi.
B. Janji dan Penggenapan
Janji
dan penggenapan adalah tema utama dalam PL dan PB. Hubungan antara kedua
perjanjian tidak hanya mengenai pembuktian benar tidaknya ramalan-ramalan,
melainkan kita juga dapat melihat bahwa janji yang diberikan Allah kepada para
bapa leluhur merupakan landasan bagi eksistensi umat Allah di sepanjang PL dan
PB. PL dan PB merupakan satu kesatuan, saling berkaitan dan saling bergantung
satu sama lain.
C. Beraneka Ragam Tetapi Bersatu
Dalam
hubungan PL dan PB ada suatu sejarah yang berkesinambungan yang mengikat
keduanya menjadi satu kesatuan. Tidak hanya kesatuan historis, ternyata di
dalamnya terdapat suatu kesatuan yang bersifat teologis. Kedua perjanjian
mempunyai pemahaman dasar yang serupa tentang Allah, manusia, dunia dan
hubungan antar ketiganya tetapi bukan berarti teologi-teologi yang ada dalam
kedua perjanjian ini sama saja.
Hubungan
Teologis Kedua Perjanjian
Untuk
dapat memahami PL dan PB sebagai satu kesatuan maka kita akan melihat konsep
yang mengarah kepada suatu pemahaman alkitabiah tentang hubungan teologis
keduanya.
A. Perhatikan bahwa PL dan PB sama-sama merupakan kitab suci
Kristen yang berpusat pada Kristus
B. Adanya hubungan yang progresif berkenaan dengan sejarah
keselamatan, peristiwa-peristiwa sejarah keselamatan terus-menerus
diaktualisasikan dalam PL dan PB. Tetapi penyelamatan bukan menjadi tujuan
akhir karya Allah, sebab kita diciptakan bukan untuk diselamatkan. Tetapi kita diselamatkan untuk menjadi seperti
maksud pencipta kita semula.
C. Menganalisa adanya unsur tipologi dalam PL, tentunya
dengan memperhatikan tipologi yang berkembang dengan mengkaji kembali makna “tupos” yang dapat berarti gambar,
contoh, teladan, atau pola.
D. Rumusan yang tepat untuk melihat korelasi kedua
perjanjian adalah rumusan janji dan penggenapan yang memiliki cakupan lebih
luas dibanding ‘ramalan dan penggenapan’.
E. Aspek lainnya adalah adanya kesinambungan dan
ketidaksinambungan, artinya Alkitab dicirikan oleh kesatuan dan keanekaragaman.
gokil gan keren banget gan,, mantaap
ReplyDeleteVINTAGE COD | TITanium Artisan & Craftsmanship
ReplyDeleteVINTAGE COD - THE THRILLY GOLD titanium dab tool · 2020 escape titanium VINTAGE COD. The THRILLY GOLD Artisan does titanium have nickel in it & Craftsmanship. · 1. VINTAGE COD. This titanium aura quartz is titanium easy flux 125 a very rare piece of Artisan and Craftsmanship.