Skip to main content

'secuil' Tentang Keselamatan

Makna “KESELAMATAN” Dalam Perjanjian Baru
Secara umum dalam Perjanjian Baru kita akan menemui beberapa makna “keselamatan”. Misalnya, keselamatan dari macam-macam bahaya atau tekanan (Band. KPR. 7:25; 27:31), juga dapat berarti keselamatan dalam hal kesehatan (band. Mrk. 5:34; 2:17). Namun dari semua pengertian-pengertian yang ada, hanya satu maksud Allah mengenai keselamatan yang Ia Firmankan dalam Alkitab. Pengertian “keselamatan” dalam Perjanjian Baru yang dimaksudkan diambil dari makna kata “Soteria”, meskipun kata ini juga dapat berarti keselamatan secara umum.
Inti keselamatan dalam Perjanjian Baru merupakan anugerah Allah yang besar sebagai wujud nyata kasih dan keadilan-Nya yaitu menyelamatkan manusia berdosa agar tidak masuk dalam hukuman kekal (Yoh. 3:16). Karya agung ini telah dilaksanakan oleh Yesus Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Sebab itu, hanya mereka yang beriman kepada Yesus Kristus yang dapat selamat. Jadi, dapat kita simpulkan bahwa:
-          Keselamatan sebagai ganti kebinasaan (Yoh. 3:16; 2Kor. 7:10)
-          Keselamatan adalah kasih karunia/anugerah dari Allah (Tit. 2:11) dan diterima dengan iman (Ef. 2:8)
-          Keselamatan itu kekal adanya (Ibr. 5:9)
-          Yesus Kristus satu-satunya jalan menuju keselamatan (KPR. 4:12; Luk. 19:10)


Mengapa manusia perlu diselamatkan?
Sejak Adam jatuh dalam dosa, maka semua dosa itu telah diwariskan kepada semua orang. Tetapi selain dosa sejak lahir, manusia juga berdosa dalam pilihannya. Firman Tuhan berkata bahwa upah dosa ialah maut (Rm. 6:23),  dan semua orang telah melakukan dosa, manusia telah mati rohani (Ef. 2:1), terhilang dari hadapan Allah (Rm. 3:23). Manusia telah menjadi hamba dosa (Yoh. 8:34). Ini berarti bahwa manusia seharus dihukum dalam siksaan kekal dalam api neraka karena perbuatan dosa yang dilakukannya, artinya bahwa manusia akan menghadapi kematian. Itulah sebabnya dapat disebutkan bahwa sebenarnya “keselamatan” telah menjadi kebutuhan manusia yang paling krusial. Namun manusia tak menyadarinya, disebabkan oleh kematian rohaninya.

Dalam kondisi yang lemah, manusia berusaha untuk menyelamatkan dirinya tetapi semuanya gagal sebab manusia tak berdaya keluar dari lumpur dosa sebab manusia tidak memiliki sedikitpun kemampuan untuk memperbaiki kondisinya, manusia membutuhkan seorang penolong yang melebihi dirinya. Allah telah memberikan Yesus Kristus kepada manusia sebagai jalan menuju selamat (Rm. 5:6). Kematian Kristus di atas salib telah menghapus semua tuntutan dosa manusia, hukuman telah ditanggungkan kepada-Nya, sehingga kita dapat datang kepada Allah (1Pet. 3:18; 2:24).
Keselamatan sangat dibutuhkan manusia dalam tiga area:
-          Posisi                          Dari dosa Adam (dosa asal)
-          Natural                      Mati dalam dosa (diri sendiri)
-          Praktis                       Kita adalah orang berdosa

Sebenarnya Diselamatkan Dari Apa?
Telah kita ketahui bahwa semua orang telah berdosa, artinya bahwa semua orang telah hidup di bawah kuasa dosa sebab telah menjadi hamba dosa. Setiap orang yang melakukan dosa akan menanggung konsekwensi dosa yaitu hukuman kekal. Tetapi Allah yang penuh kasih tidak ingin manusia binasa(Mat. 1:21), sehingga dengan kehendak-Nya sendiri Ia telah memutuskan untuk turun tangan sendiri untuk menyelamatkan manusia. Namun di satu sisi Allah harus tetap menjaga kekudusan-Nya. Ia harus konsisten bahwa upah dosa adalah maut atau kematian, oleh karena itu Allah memberikan seorang yang menanggung semua upah dosa tersebut. Dia lah Yesus Kristus yang adalah pribadi Allah sendiri,berinkarnasi menjadi manusia, tujuan agar Ia dapat mati (sebab Allah tidak dapat mati) sehingga manusia dimerdekakan.
Kematian Kristus di kayu salib telah menyelamatkan kita:
-          Past              Justification (selamat dari hukuman dosa)
-          Present       Sangtification (selamat dari kuasa dosa)
-          Future         Glorification (selamat dari keberadaan dosa)

Comments

Popular posts from this blog

Pencobaan Adam vs Pencobaan Yesus

BAB I PENDAHULUAN Dewasa ini keragu-raguan akan ke-Allahan Yesus Kristus semakin mencuat, baik dari kalangan Kristen maupun non- Kristen. Mereka mengemukakan argumen-argumennya untuk membantah bahwa Yesus adalah Allah. Salah satu kasus yang menjadi pembahasannya adalah ketika Yesus dicobai. Beberapa orang berpendapat bahwa ketika Yesus dicobai di padang gurun oleh iblis, Ia berpotensi untuk berdosa. Mereka menyamakan posisiNya dengan Adam pada waktu di taman Eden. Tetapi kedua hal ini sebenarnya jelas sangat kontras dimana keadaan Adam pada waktu itu adalah dapat berdosa dan dapat tidak berdosa, sedangkan Yesus sama sekali tidak dapat berdosa (bukan tidak mau). Dalam kehidupan sebagai pengikut Kristus, tentu kita diperhadapkan dengan berbagai macam pencobaan dalam berbagai bentuk dan tingkat kesulitan yang berbeda. Sebab seperti Firman Tuhan sendiri berkata bahwa ketika kita memutuskan percaya dan menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat maka itu artinya kita telah siap unt...