Skip to main content

Proses Komunikasi Misi Paulus

BAB I
PENDAHULUAN

Mengingat begitu dalam dan rumitnya cara Paulus membangun dan menjelaskan Injil Yesus Kristus, tidak heran jika sejarah penyelidikan Paulus memunculkan sejumlah besar penafsiran. Paulus menulis banyak surat yang sekarang kita terima dalam Perjanjian Baru. Walau sebenarnya tidak semua surat Paulus ditulis oleh tangan Paulus sendiri. Ada tujuh surat yang diakui para ahli sebagai surat asli paulus: Rom, 1-2Kor, Gal, Fil, 1Tes, dan Flm. Bagaimana dengan surat yang lain? Surat Kol dan Ef kemungkinan ditulis oleh seorang murid Paulus. Sedangkan surat2 Ibr, 1-2Tim, Tit dan mungkin 2Tes, bila dilihat secara kronologis ditulis setelah Paulus meninggal. Walaupun gagasan dan spritualitas yang muncul adalah berasal dari Paulus, namun suratnya sendiri tidak berasal dari Paulus.
Pemberitaan Injil yang menjadi tanggungjawab orang Kristen kerap sekali terhambat. Hal ini terjadi karena orang Kristen pada umumnya kurang memperhatikan strategi-strategi dalam penginjilan. Berkomunikasi dengan baik dan benar merupakan salah satu strategi yang sanga berpengaruh dalam menjalankan amanat Agung Tuhan Yesus untuk menjadikan semua bangsa menjadi muridNya (mat. 28:18-20).
Rasul Paulus dalam pelayanannya memperhatikan dengan benar caara untuk berkomunikasi dalam permberitaan Injil, hingga ia menjadi seorang penginjil yang sukses pada zamannya. Pengalaman rasul Paulus member inspirasi bagi gereja masa kini untuk menerapkan komunikasi yang baik dan bernar demi tersebar luasnya Injil kerajaan Alla. Namyak pengalaman Paulus yang dicatat dalam Alkitab yang menjadi teladan untuk pemberita Injil dengan komunikasi baik dan benar.. Paulus bukan saja sekedar memberitakan Injil tetapi dia juga mau menderita karena Injil, ia disiksa, difitnah dan banyak hal lain yang diterimanya yang menyakitkan hatinya namun semua itu tidak membuat ia putus asa ataupun mundur dari pelayanannya melainkan tetap maju berlomba sampai ia benar-benar mendapatkan upahnya.


BAB II
Komunikasi Misi Paulus
Dalam pengertian paling luas komunikasi adalah proses dimana orang-orang memberi dan menerima informasi kognitif dan informasi lainnya. Informasi yang mungkin mencakup fakta-fakta, ide-ide atau perasaan lainnya. Bias disampaikan melalui beberapa cara, seperti ucapan, isyarat dan symbol gambar atau tertulis. Sarana komunikasi yang penting untuk orang dewasa adalah komunikasi verbal (meskipun bahasa non verbal mungkin lebih penting). Penggunaan system bahasa yang sangat rumit merupakan salah satu prestasi manusia yang paling menonjol dan menakjubkan[1].

2.1 Bentuk-Bentuk Komunikasi Paulus
Misi  penyampaian Injil yang dilakukan Paulus dilakukan dalam beberapa bentuk dari proses komunikasi yang selalu memperhatikan konteks setempat.. Pendekatannya dengan berbagai cara sangat efektif, sehingga banyak orang menjadi percaya walaupun ada juga yang menolaknya. Dalam pemberitaannya tentu tidak terlepas dari proses komunikasi. Berikut beberapa bentuk yang digunakan rasul Paulus dalam memberitakan Injil:

2.1.1     Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi antar pribadi adalah komunikasi yang terjadi pada dua orang. Mereka belajar saling mengenal, berhubungan, saling mempengaruhi, dan saling. Dalam Kisah Para Rasul kita dapat melihat bagaimana Paulus  mengkomunikasikan Injil lewat Dialog secara perorangan seperti yang dilakukannya kepada kepala penjara di Filipi (Kis 16:19-40), juga halnya bagaimana Paulus dapat memenangkan Onesimus budak Filemon yang melarikan diri dan bertemu dengan Paulus. Kesempatan itu Ia gunakan untuk mengkomunikasikan Injil Yesus kepada Onesimus sehingga Paulus dapat memberi kesaksian kepada Filemon bahwa Onesimus sekarang telah menjadi pribadi yang baru didalam Yesus. Komunikasi antar pribadi ini dilakukan Paulus tidak hanya secara langsung (tatap muka) tetapi juga lewat surat-surat kepada pribadi-pribadi, seperti surat kepada; Titus, Filemon, Timotius.

2.1.2     Komunikasi Massa

Yang dimaksud dengan komunikasi massa yaitu komunikasi yang di lakukan di depan banyak orang. Komunikasi ini bertujuan untuk menghibur, meyakinkan memberi informasi, mengukuhkan status, membius menciptakan persatuan kepada khalayak yang sangat luas (Juanda, Diktat Ilmu Komunikasi). Komunikasi Massa yang dilakukan Paulus secara umum dapat kita temukan saat Ia mengajar maupun berkhotbah dalam sinagoge. Misalnya ketika Ia berada di Antiokhia-Pisidia dan Ikonium, Listra, dan Derbe. Khotbah Paulus didalam sinagoge di Antiokhoa di Pisidia dikutip secara panjang lebar oleh Lukas (Kis 13:16-43).  Secara umum gaya pidatonya menyerupai gaya stefanus, karena ia menggunakan cara pendekatan dengan mengulang kembali sejarah hubungan Allah dengan bangsa Israel. Akibat dari pernyataan ini timbul dua macan respon (umpan balik) disatu pihak ada tanggapan luar biasa atas pidatonya tapi dilain pihak orang Yahudi yang menentangnya penuh dengan rasa iri dan dengki. Keadaan yang sama terjadi dikota Ikonium yang terletak agak kesebelah tenggara dari Antiokhia tetapi pertentangan pendapat begitu hebat hingga para pengkhotbah diusir dari kota dan bersembunyi dikota-kota sekitarnya yaitu Listra dan Derbe.[2]

2.1.3        Komunikasi Lintas-Budaya
            Paulus memperlihatkan kemauan dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan pendengarnya di dalam khotbah-khotbahnya, dan menjelaskan dasar pendekatan ini ketika dia menulis kepada jemaat di Korintus (1Kor 9:20-22). Paulus menunjuk pada satu metode dasar mengkomunikasikan Injil. Ia menempatkan dirinya dalam posisi dari respondennya apakah mereka orang Yahudi atau bukan Yahudi, hidup di bawah hukum taurat maupun tidak, lemah atau kuat. Terdapat satu pemahaman yang sangat nyata dimana ia dapat menyamakan diri dengan setiap kelompok, dan sungguh ia sama.[3] Pekabaran Injil seperti itu tentu berbeda dengan pekabaran Injil sekarang, paling tidak dalam dua hal; pertama, bagi jemaat mula-mula pekerjaan luar negri dan dalam negri adalah sama. Bahkan, setelah halangan-halangan dari Yudaisme tradisional diatasi (Kis 15), pemberitan penginjilan tetap bersifat domestik. Kedua, jemaat yang mengenal dan merupakan bagian dari lingkungan budayanya, tidak mengalami kesulitan beradaptasi, tetapi menghadapi bahaya ditelan asimilasi. Sikap menjadi Yunani bagi orang Yunani merupakan kesulitan besar bagi para utusan Kristen modern, namun bagi Paulus dan para pengganti langsungnya merupakan hal yang mudah.[4]
            Surat-surat Paulus merupakan cermin jiwanya. Surat-surat itu mengungkapkan motif-motif batinnya, perasaannya yang paling dalam, keyakinannya yang paling mendasar. Tanpa surat-surat yang ada itu, Paulus hanya akan menjadi figur yang tak jelas bagi kita. Paulus lebih tertarik kepada orang-orang dan apa yang menimpa mereka dibandingkan dengan berbagai formalitas sastra. Ketika kita membaca tulisan-tulisannya, kita sering merasakan kadang-kadang kata-katanya muncul begitu tiba-tiba, ditulis secara tergesa-gesa seperti dalam pasal pertama surat Galatia. Kadang-kadang tulisannya terputus tiba- tiba dan pikirannya meloncat kepada gagasan-gagasan baru. Atau di beberapa tempat ia seperti menarik napas panjang, lalu menuliskan satu kalimat yang hampir tidak ada akhirnya. Tulisannya dalam 2 Korintus 10:10 memberi kita petunjuk tentang bagaimana surat-surat Paulus diterima dan dipandang pada saat itu. Bahkan musuh-musuh dan para pengecamnya mengakui pengaruh dari kata- katanya, karena mereka diketahui berkomentar, "surat-suratnya memang tegas dan keras (2Korintus10:10). Pemimpin-pemimpin yang kuat, seperti Paulus, cenderung untuk memikat atau membuat tidak senang orang-orang yang ingin mereka pengaruhi. Paulus memiliki para pengikut yang setia dan juga musuh yang sangat membencinya. Akibatnya, orang-orang yang hidup sezaman dengannya memiliki banyak pandangan yang sangat berbeda mengenai dirinya[5].


2.2  DASAR KOMUNIKASI PAULUS

Kerinduan dan semangat rasul Paulus dalam pemberitaan Injil Kristus menjadikan dia penginjil yang sukses pada zamannya. Semua ini dilakukannya tentu ada hal yang melatarbelakanginya. Dalam semua suratnya kita bisa mengambil banyak hal yang mendasari rasul Paulus mau memberitakan Injil dengan sepenuh hati. Tetapi pada kesempatan ini penulis hanya mencantumkan beberapa hal saja.
2.2.1 Mengutamakan Tuhan Dalam Pelayanan
Paulus dengan tegas meyatakan keyakinannya terhadap panggilan Allah dan apa yagn ia kerjakan (Gal. 1:1). Paulus sadar bahwa sejak dalam kandungan ia sudah dipilih Allah untuk memberitakan Injil keselamatan di antara orang non-Yahudi, seklaipun hal tersebut baru ia sadari beberapa puluh tahun kemudian (Gal. 1:15-18). Setelah bertemu dengan Tuhan secara ajaib dalam perjalanan ke Damsyik, Paulus mengalami perubahan total ddalam pandangan hidup, minat, dan cita-citanya. Paulus sangat mengasihi Tuhan dan mau melakukan apa saja untuk menyenangkan hati Tuhan (band. Flp. 1:20-22). Karena kasihnya kepada Tuhan, maka secara otomatis palayanannya dikerjakan senantiasa dengan sepenuh hati. Ia tidak asal-asalan bekerja, ia berusaha memanfaatkan setiap detik yang ia miliki dengan efisien. Paulus juga tidak hanya berbicara, namun ia juga mempraktikkan apa yang ia katakan. Ketika Paulus mendapat penglihatan untuk melayani di Makedonia, ia tidak menunda-nunda (Kis. 16:9-12). Ia segera berlayar ke kota pertama di bagian Makedonia, yaitu Filipi dan memenangkan Lidia, penjual kain ungu dan seluruh anggota keluarganya, juga kepala penjara Filipi dan keluarganya. Mereka inilah cikal bakal jemaat di Eropa yang pertama.
2.2.2  Menjaga Integritas Pribadi
Paulus adalah seorang pemimpin yagn sangaat menghargai integritas pribadi dan menjaga nama baiknya. Rupanya ia amat memahami prinsip yang didasarkan pada Kitab Amsal dan Pengkhotbah ini, “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar (Ams.  22:1), Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal (Pkh. 7:1).” Ketika menasihati Timotius dalam menyeleksi calon-calon pemimpin gereja, Paulus mengatakan, “Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat iblis (I Tim. 3:7).” David Hocking memberikan komentar tentang ayat ini, “Para pemimpin rohani harus memiliki suatu kesaksian dan gaya hidup yang konsisten di antara orang-orang yang tidak percaya maupun mereka yang percaya.”[6] Paulus menjaga integritas pribadinya melalui beberapa sikat atau tindakan yang konsisten, antara lain dengan menjadi teladan (II Tes. 3:7-9). Paulus mempraktikkan apa yang ia ajarkan untuk memberi teladan bagi jemaat. Disamping itu, Paulus juga senantiasa menjaga kesucian (II Kor. 7:1), menghindari celaan, tidak cari untuk sendiri. Bagi Paulus integritas pribadi atau nama baik jauh lebih penting, karena pelayannya ia lakukan bukan untuk kepentingan egonya sendiri, namun supaya ia tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain dan tugas pemberitaan Injil tidak terkendala.
2.2.3  Menjaga Kemurnian Ajarannya
Dalam suratnya Paulus berulangkali menegaskan untuk tetap bertahan pada ajarannya, yaitu bahwa “manusia diselamatkan karena kasih karunia Allah oleh iman kepada Tuhan Yesus Kristus, bukan karena melakukan hukum taurat”. Ketika mendengar jemaat di Galatia telah mengikuti Injil yang lain dari yang ia ajarkan, Paulus dengan sangat keras menegur mereka (Gal. 1:6-8). Paulus tampak sangat gusar terhadap orang-orang yang memutarbalikkan berita Injil. Untuk menekankan betapa seriusnya penyesatan dan penyimpangan tersebut, ia sampai dua kali mengatakan, “Terkutuklah orang yang memberitakan Injil yang berbeda dengan yang telah kami beritakan!”
Untuk mencegah hal itu Paulus berusaha memberikan pengajaran yang kuat setelah misi penginjilannya. Ia berusaha mengunjungi lagi orang-orang yang perna ia injili untuk memberikan follow-up. Dan ia biasanya tinggal cukup lama di suatu daerah untuk membekali mereka dengan pangajaran yang kuat. Selain itu, melalui surat-surat kiriman, Paulus memberikan dasar-dasar pengajaran yang kuat, diikuti dengan penerapan praktis. Semua itu dilakukan Paulus supaya jemaat kuat dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran yang sesat, maka ia mempertahankan kemurnian ajarannya.


BAB III
IMPLIKASI KOMUNIKASI PAULUS

Proses komunikasi yang dilakukan rasul Paulus memberi inspirasi cemerlang bagi orang Kristen saat ini. Bagaimana tidak, dari kerja keras yang ia tunjukkan dengan proses komunikasi yang sangat baik menjadikan dia menjadi penginjil yang hebat. Pengalaman dari hamba Tuhan semacam ini perlu kita pelajari dan tidak ada salahnya apabila kita menarik pelajaran untuk kita terapkan dalam hidup dan pelayanan. Penulis berusaha untuk menyimpulkan implikasi yang dapat diterapkan baik bagi seorang penginjil atau hamba Tuhan maupun bagi jemaat.

3.1 Bagi Pemberita Injil
Keterbatasan dalam berkomunikasi merupakan yang menjadi penghambat utama dalam pemberitaan Injil. Itulah sebabnya kita memang harus menaruh perhatian lebih untuk hal yang satu ini. Pengetahuan yang kita miliki tak akan berguna jika tak bisa tersalur dengan baik. Maka dari itu, penting bagi kita untuk mempelajari teknik-teknik berkomunikasi dengan baik, sehingga dengan demikian pemberitaan Injil Kristus akan semakin meluas. Semuanya hanya bagi kemuliaan Allah.

3.2. Bagi Jemaat
Kita sering menemui kasus jemaat yang suka berpindah-pindah penggembalaan. Beberapa orang mengakui bahwa hal itu terjadi oleh karena tidak adanya kecocokan antara jemaat dengan gembala maupun jemaat dengan jemaat lainnya. Mengapa hal ini kerap terjadi? Ini juga disebabkan oleh karena miscommunication. Jangan anggap enteng akan hal ini, tanpa kita sadari perkataan yang kita keluarkan sering menjadi batu sandungan bagi orang lain. Oleh karena itu kita membutuhkan Firman Tuhan yang akan senantiasa menuntun kita untuk belajar memperbaiki kata-kata. Dengan kata-kata pahit, kita menghancurkan tubuh Kristus, dengan kata-kata yang manis kita membangun tubuh Kristus.
BAB IV
PENUTUP

4.1. Simpulan
Proses komunikasi misi Paulus memang sangat memperhatikan sekali prinsip-prinsip berkomunikasinya. Sebagai seorang rasul, Paulus tidak sembarangan memberitakan Injil, ini menunjukkan bahwa dia memang mengasihi Kristus. Metode kontekstual yang ia terapkan sangat efisien, baik dalam berkomunikasi antar pribadi, komunikasi dengan massa bahkan komunikasi lintas budaya, semuanya berhasil dengan baik. Meskipun Paulus harus mengalami banyak pengalaman yang pahit, tetapi karena kesetiaannya ia tetap dalam naungan Allah.
Hal lain yang menjadi ciri khas Paulus dan yang memang harus dimiliki orang Kristen adalah bahwa dalam pelayanannya Paulus tetap mengutamakan Tuhan dalam segala hal yang ia lakukan. Selain itu ia tetap mempertahankan integritas dirinya sebagai hamba Tuhan, sebab ia tidak mau nama Tuhan dipermalukan. Dan yang terakhir Paulus senantiasa menjaga kemurnian ajarannya, tetap berpegang pada injil Kristus.


[1] Paul D. Meier. Pengantar Psikologi dan konseling Kristen. (Jogja: ANDI. 2009), 148
[2] Merrill C. Tenney. 2003. Survei Perjanjian Baru . Malang: Gandum Mas. 318-319.
[3]David J. Hesselgrave, Cummunicating Christ Cross-Culturally (Malang: Literatur  SAAT, 2005) 173.
[4] David J. Hesselgrave – Edward Rommen, Kontekstualisasi, Makna Metode dan Model (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006) 31.
[5]L Packer.Merrill C.Tenney.William White Jr, Dunia Perjanjia Baru (Malang: Gandum Mas, 1993) 214 – 218.
[6] David Hocking. Rahasia Keberhasilan Seorang Pemimpin. 1994., pen., Martin Muslie dan Xavier Pranata. Yogyakarta. Yayasan Andi. 15 

Comments

  1. luar biasa ya kk
    udh berkembang skrg..
    mntap!!!!!!!!!!!
    good luck kk tian

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pencobaan Adam vs Pencobaan Yesus

BAB I PENDAHULUAN Dewasa ini keragu-raguan akan ke-Allahan Yesus Kristus semakin mencuat, baik dari kalangan Kristen maupun non- Kristen. Mereka mengemukakan argumen-argumennya untuk membantah bahwa Yesus adalah Allah. Salah satu kasus yang menjadi pembahasannya adalah ketika Yesus dicobai. Beberapa orang berpendapat bahwa ketika Yesus dicobai di padang gurun oleh iblis, Ia berpotensi untuk berdosa. Mereka menyamakan posisiNya dengan Adam pada waktu di taman Eden. Tetapi kedua hal ini sebenarnya jelas sangat kontras dimana keadaan Adam pada waktu itu adalah dapat berdosa dan dapat tidak berdosa, sedangkan Yesus sama sekali tidak dapat berdosa (bukan tidak mau). Dalam kehidupan sebagai pengikut Kristus, tentu kita diperhadapkan dengan berbagai macam pencobaan dalam berbagai bentuk dan tingkat kesulitan yang berbeda. Sebab seperti Firman Tuhan sendiri berkata bahwa ketika kita memutuskan percaya dan menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat maka itu artinya kita telah siap unt...