Memahami mengenai Allah harus dimulai dari kesadaran bahwa Allah tak terbatas, melampaui akal manusia yang sangat terbatas. Jadi, bagaimana mungkin manusia bisa mempelajari dan “mengurung” Allah yang tidak terbatas di dalam akalnya yang terbatas. Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa kita tidak bisa menjelaskan siapa Allah. Kita dapat mengenal Allah sebatas DIA menyatakan diri-Nya kepada manusia di dalam Firman Allah (Alkitab). Kemudian harus diingat bahwa ketika berbicara tentang Allah, kita berbicara mengenai hakikat Allah yang Roh adanya (Yoh 4:24), bukan materi; tidak terbatas pada ruang dan waktu (Mazmur 93:2).
Penggunaan tercatat pertama dari kata Yunani ini dalam teologi Kristen (meskipun bukan tentang Trinitas Ilahi) adalah oleh Teofilus dari Antiokhia pada sekitar 170. Namun, sejak awal abad ketiga doktrin Tritunggal oleh Tertulianus seorang teolog Latin memformulasikan doktrin tersebut (masih memiliki banyak cacat) karena ia meletakkan posisi Allah Anak di bawah Allah Bapa. Dan dalam Dewan Nicea tahun 325 doktrin ini ditegaskan dan dikuatkan serta dirumuskan kembali oleh para reformator protestan. Alkitab Kristen secara eksplisit memang tidak menuliskan istilah "Allah Tritunggal", tetapi keberadaan Bapa, Putra dan Roh Kudus tersurat dalam banyak ayat, baik secara terpisah maupun bersama-sama. Beberapa orang atau kelompok menyangkal bahwa doktrin yang dinyatakan pada abad keempat tersebut didasarkan pada gagasan Kristen, dan bahwa doktrin itu merupakan sebuah penyimpangan dari ajaran Kristen mula-mula tentang Allah.
Pemahaman yang Salah Mengenai Tritunggal
Mengingat doktrin Tritunggal yang sulit untuk diterima, maka ada banyak paham-paham yang mengemukakan pemahaman yang salah tentang doktrin ini, bahkan tak banyak yang memutarbalikkannya menjadi ajaran yang bisa merusak iman Kristen. Seseorang atau satu komunitas yang memeluk paham ini dikenal sebagai Antitritunggal. Semua penganut anti-Tritunggal meyakini bahwa doktrin di awal masa kekristenan bukanlah Tritunggal. Secara umum, anti-Tritunggal juga meyakini bahwa Kristen merupakan hasil dari campur tangan Konstantinus I, baik secara langsung atau tidak langsung, dengan kompensasi menetapkan Kristen Tritunggal sebagai agama resmi pada Kekaisaran Romawi. Karena pada masa dimana ditetapkannya doktrin Tritunggal itu status kristen melonjak secara dramatis anti-Tritunggal sering mempertanyakan doktrin tersebut. Karena alasan yang sama pula, doktrin Tritunggal dianggap oleh anti-Tritunggal sebagai sebuah dokumen politik yang penting, yang merupakan hasil dari pengubahan doktrin asli menjadi doktrin yang menguntungkan kekaisaran oleh para pemimpin Gereja Katolik, sehingga gereja menjadi alat bagi Kekaisaran Romawi. Tidak hanya pada zaman Kekaisaran saja, penganut anti-Tritunggal hingga saat ini berkembang dengan pesat. Dan bukan hanya dari luar Kristen, dari pemeluk agaman Kristen pun banyak bermunculan paham-paham yang salah dalam memahami Tritunggal. Sebagian dari pemeluk Kristen ada yang menolak doktrin Tritunggal, atau sekedar menganggapnya suatu hal yang tidak begitu penting. Pemahaman akan Tritunggal sangat bervariasi sesuai alasan mereka menolak Tritunggal dan sesuai bagaimana mereka mendeskripsikan Tuhan. Argumen beberapa pandangan yang menyangkal kebenaran Tritunggal adalah Yesus menyatakan keterbatasannya dibanding Bapa (Yoh 14:28), Markus 13:32), Tidak ditemukan pada Alkitab, Hasil pemikiran Konstantin, dll.
ARIANISME
Keyakinan Arianisme tentang sifat Tritunggal lebih jelas digambarkan dalam SuratAuxentius, seorang uskup Milano Arianis pada abad ke-4, mengenai misionaris Ulfilas[1]. Arianisme mengatakan bahwa Allah Bapa ("yang tidak dilahirkan"), selamanya ada, terpisah dari Yesus Kristus yang lebih rendah ("anak tunggal"), yang dilahirkan untuk memberitakan kuasa Bapa. Sang Bapa, yang bekerja melalui Sang Anak. Bapa dianggap sebagai "Allah sejati satu-satunya." 1 Korintus 8:5-6 dikutip sebagai ayat buktinya:
"Sebab sungguhpun ada apa yang disebut "allah", baik di sorga, maupun di bumi — dan memang benar ada banyak "allah" dan banyak "tuhan" yang demikian — namun bagi kita hanya ada satu Allah (theos) saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan (kurios) saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup."
SABELLIANISME
Pandangan Sabellianisme ini disebut juga sebagai Monarchianisme sesuai nama pencetusnya, yaitu Sabellius yang hidup pada abad ketiga. Menurut pandangan ini, sebenarnya hanya ada satu oknum Allah, bukan tiga oknum. Allah yang Esa tersebut menyatakan diri dengan tiga cara, atau tiga manifestasi. Sebagai pencipta alam semesta, Allah muncul sebagai Bapa; kemudian, sebagai Penebus manusia, Allah muncul sebagai Anak dan akhirnya Roh Kudus muncul sebagai pribadi yang menguduskan. Untuk menjelaskan hal ini, seringkali orang mengambil ilustrasi es, air dan uap. Pada temperatur di bawah 0 derajat kita menemukan zat es, sedangkan di atas temperatur 0 derajat es tersebut akan berubah menjadi air, dan pada temperatur di atas 100 derajat air itu akan berubah menjadi uap. Ada juga yang menggambarkannya dengan seorang yang berperan sebagai ayah di rumah, tapi di kantor sebagai pimpinan dan pada kesempatan lain sebagai orang yang bermain golf. Artinya, orang yang sama dan yang satu itu berperan sebagai ayah, pimpinan dan pemain golf. Pengajaran tidak memuaskan karena tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab.
MORMONISME
Kelompok yang berpendapat bahwa tiga pribadi pada Tritunggal adalah tiga individu yang berdiri sendiri dan terpisah, namun dapat beraksi bersama pada tujuan yang sama persis sebagai sebuah entitas monotheis. Tujuan itu adalah menyelamatkan umat manusia, dan Yesus dipercaya telah menerima perintah ketuhanan dari Allah Bapa sebelum penciptaannya. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah sebagian besar daridenominasi Mormonisme (Latter Day Saint), termasuk denominasi terbesarnya, Gereja Mormon (The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints).
BINITARIANISME
Kelompok yang meyakini ketuhanan Allah Bapa dan Yesus, namun tidak menerima eksistensi Roh Kudus. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Gereja Tuhan (Church of God). Pandangan ini mengajarkan bahwa "Roh Kudus merupakan esensi utama, kehendak, dan kekuatan dari Tuhan. Dia bukanlah sebuah entiti. Dia adalah sifat yang melekat pada Allah Bapa dan Yesus, dan keluar dari keduanya ke seluruh penjuru semesta. Kepercayaan seperti ini secara historis sering disebut jug sebagai Semi-Arianisme.
Pemahaman Alkitabiah Mengenai Tritunggal
Tritunggal atau Trinitas adalah doktrin Iman Kristen yang mengakui Satu Allah Yang Esa, namun hadir dalam Tiga Pribadi: Allah Bapa dan Allah Putra dan Allah Roh Kudus, di mana ketiganya adalah sama esensinya, sama kedudukannnya, sama kuasanya, dan sama kemuliaannya. Istilah Tritunggal mengandung arti tiga Pribadi dalam satu kesatuan esensi Allah. Istilah "pribadi" dalam bahasa Yunani adalah hypostasis, diterjemahkan ke Latin sebagai persona (Inggris: Person).
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa kita tidak menemukan istilah Allah Tritunggal di dalam Alkitab. Karena itu, ada sebagian orang yang menolak pandangan Allah Tritunggal karena menurut mereka istilah itu tidak pernah ditemukan di dalam Alkitab, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Selanjutnya, mereka itu menyatakan bahwa ajaran Allah Tritunggal hanya merupakan ciptaan dari bapak-bapak Gereja mula-mula. Benarkah demikian? Memang istilah Allah Tritunggal tidak ditemukan, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Namun sesungguhnya, Alkitab secara keseluruhan mengungkapkan tentang Allah yang Esa dan juga tiga pribadi. Istilah Tritunggal sering dimengerti secara salah oleh orang di luar Kristen. Baik Theophilus atau pun Tertulianus menggunakan istilah tritunggal atau trinitas merupakan usaha untuk menjelaskan tentang fakta yang terdapat dalam Alkitab mengenai Allah yang Esa yang disebut Bapa, yang memiliki Firman yang disebut Anak dan Roh yang disebut Roh Kudus yang bersifat kekal. Dan juga untuk menerangkan hubungan Firman Allah dan Roh Allah itu dengan Allah Yang Esa itu sendiri.
Allah adalah Tiga-dalam-satu, dengan tiap Pribadi Tuhan adalah Allah yang sama dan selalu dan sepenuhnya. Masing-masing diperlukan, dan masing-masing berbeda, tetapi semuanya adalah satu. Ketiga Pribadi muncul dalam urutan yang bersifat sebab-akibat dan logis. Bapa adalah yang tak nampak, Sumber dari segala sesuatu, dinyatakan dalam dan oleh Putra, diejawantahkan dalam dan oleh Roh Kudus. Putra bermula dari Bapa, dan Roh dari Putra. Mengacu pada penciptaan Tuhan, Bapa adalah Pemikiran di atas semua itu, Putra adalah Sabda yang memanggilnya keluar, dan Roh adalah Perbuatan yang menyebabkannya menjadi kenyataan. Kita “melihat” Tuhan dan penyelamatan agung-Nya dalam Putra, Tuhan Yesus Kristus, kemudian “mengalami” kenyataan mereka dalam iman, melalui kehadiran Roh Kudus-Nya.
Keesaan Allah
Keesaan Allah berarti bahwa hanya ada satu Allah saja dan bahwa sifat-dasar dari Allah tidask dapat dipisah-pisahkan (Ul. 6:4). Allah itu Esa adanya merupakan kebenaran sejati Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Ul. 4:35, 39; I Raj. 8:60)(Mark. 12:29-32, I Tim. 2:5). Allah bukan saja Esa, Dia adalah satu-satunya Allah. Hanya ada satu oknum yang tak terbatas dan sempurna. Allah Roh adanya sehingga tak dapat diurai seperti manusia yang memiliki bagian yang jasmani dan rohani. Namun., keesaan ini tidak inkonsisten dengan konsep ketritunggalan, karena suatu kesaan tidak sama dengan suatu kesatuan (satuan ditandasi dengan sifat tunggal). Keesaan Allah inilah yang memberi peluang bagi adanya perbedaan pribadi di dalam sifat-dasar ilahi sekalipun pada sat yang sama tetap diakui bahwa sifat dasar ilahi itu secara matematis dan kekal tetap satu. Keesaan Allah menyatakan secara tidak langsung bahwa ketiga oknum trinitas bukanlah hakikat-hakikat yang terpisah di dalam hakikat ilahi itu.
Pengertian Pribadi dalam Tritunggal
Hal yang paling sulit dalam konsep Kristiani mengenai Tritunggal adalah tidak adanya penjelasan yang cukup untuk itu. Tritunggal adalah konsep yang tidak mungkin dapat dimengerti secara penuh oleh manusia apalagi untuk dijelaskan. Allah jauh lebih besar dan agung dari kita karena itu jangan berharap bahwa kita dapat memahami Dia secara penuh. Alkitab mengajarkan bahwa Bapa adalah Allah, Yesus adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah. Alkitab juga mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah. Meskipun kita memahami beberapa hal mengenai hubungan antar Pribadi dalam Tritunggal, pada akhirnya kita tetap tidak dapat mengerti secara keseluruhan. Namun demikian, tidak berarti bahwa Tritunggal tidak benar atau bukan berdasarkan ajaran Alkitab. Ketiga Pribadi dalam Tritunggal sama kedudukannya, sama kuasanya, dan sama kemuliaannya. Ketiganya satu dalam esensi dan memiliki sifat (attribute) yang sama. Ke-mahakuasa-an,ke-tidak-berubah-an, ke-mahasuci-an, ke-tidak-tergantung-an, dimiliki oleh masing-masing Pribadi Allah. Masing-masing Pribadi adalah Allah, namun ke tiga Pribadi tidak identik, maka Allah Bapa bukan Allah Anak; Allah Anak bukan Allah Roh Kudus; dan Allah Roh Kudus bukan Allah Bapa. Ketiganya dapat dibedakan, tetapi didalam esensi tidak terpisahkan. Maka Bapa (Kepribadian Bapa) tidaklah lebih tinggi daripada Anak ataupun juga dengan Roh Kudus. Perhatikan diagram "Perisai Tritunggal" atau "tameng Fidei" yang digunakan oleh Kristen simbolisme Barat tradisional.[2]
Allah Bapa
Allah sebagai Bapa yang memelihara, yang memberikan kasih seorang Bapa Sejati yang sangat mesra, begitu penyayang dan begitu tertib penuh ketegasan (disiplin). Sebutan Bapa memperlihatkan hubungan yang harus ada antara allah dan menusia; kasih dan pemeliharaan Allah, kepatuhan dalam sukacita dari pihak manusia. Ini sama sekali tidak ada hubungan dengan garis keturunan secara darah daging. Allah tidak kawin dan tidak punya keturunan secara darah daging. Allah sebagai Bapa Sorgawi merupakan Bapa yang sempurna dari segala bapa di dunia ini yang adalah gambaran dan rupa (duplikat dan bayangan) dari Sang Bapa Sorgawi yang murni[3]. Dalam PL, kita melihat bahwa Allah Yang Esa disebut Bapa sebab ia adalah pencipta manusia, Ia juga disebut Bapa Israel (Mal. 2:10; 1:6; Yes 64:8). Kita mengenal istilah Bapa karena Yesus sering memakai istilah Bapa yang menunjukkan hubungan antara diriNya dengan Allah dan orang-orang yang percaya kepadaNya (Mat. 5:45; Rm. 8:16; I yoh. 3:1). Nama Bapa kadang-kadang dipakai untuk menunjuk Allah tritunggal secara keseluruhan sebagai asal mula dari segala ciptaan (I Kor. 8:6; Ef. 3:15; Ibr. 12:9)
Allah Anak
Pribadi kedua dalam tritunggal disebut “Allah Anak”. Allah sebagai teladan dengan Ia merendahkan diri-Nya dalam rupa manusia dan mengenakan nama Yesus yang adalah Kristus (Allah yang datang sebagai manusia), taat pada semua hukum yang telah Ia tetapkan, mati di kayu salib, dikuburkan, lalu bangkit pada hari yang ketiga, dan naik ke surga dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan mati. Ia adalah teladan iman sejati dan sumber kehidupan bagi orang Kristen. Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang terbesar dengan menjadi Anak yang mati di kayu salib. Pengertian Anak Allah dapat diartikan dalam arti metafisik (Yoh. 1:14; Gal.4:4), dalam pengertian jabatanNya atau Mesianik (Mat. 8:29; Yoh. 1:29; II Kor. 11:31), . Tetapi ke-Allah-anNya Ini adalah berita Injil yang adalah kekuatan Allah (Roma 1:16). Alkitab menyatakan bahwa Anak merupakan yang Anak sulung Allah dari semua anak-anak Anak (Kepribadian Anak) tidak pernah lebih rendah daripada Bapa.
Allah Roh Kudus
Allah sebagai Pembimbing, Pendamping, Penolong, Penyerta, dan Penghibur yang tidak terlihat, namun berada dalam hati setiap manusia yang mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan hidup didalam-Nya. Roh Kudus bukanlah tenaga aktif, Roh Kudus bukanlah kebijaksanaan (pikiran) tertinggi dari seluruh alam jagad kosmik. Roh Kudus bukanlah manusia tokoh pendiri suatu agama baru. Roh Kudus tidak pernah berbau hal yang mistik. Memang benar bahwa Allah itu maha kuasa, tetapi Roh Kudus itu bukan sekedar kuasa atau kekuatan, tetapi Roh Kudus adalah Allah, sebab Allah itu Roh. Dengan demikian Roh Kudus adalah Pribadi Allah itu sendiri dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Allah. Kepribadian Roh Kudus tidak pernah lebih rendah daripada Bapa maupun Anak.
Dasar-dasar Alkitabiah Tritunggal
· Saat penciptaan, dimana Bapa berfirman dan Roh Kudus yang memulihkan (melayang-layang) sempurna.
· Pada saat penciptaan dalam Kejadian 1:26, Allah berkata: "Marilah Kita ...", kata Kita merupakan subjek jamak.
· Saat Yesus dibaptis di sungai Yordan, Ia menunjukkan kepribadian-Nya pada saat yang sama dan bermunculan bersama-sama dengan Roh Kudus (dalam manifestasi burung merpati) turun ke atas Anak, dan Bapa berfirman dengan lantang penuh kasih.
· Saat Yesus berada di atas gunung, setelah Ia meneladani manusia dengan berdoa, Ia menunjukkan kemuliaan-Nya dan menampakkan kepribadian-Nya dengan wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang, kemudian Roh Kudus turun, dan awan yang terang menaungi 3 orang murid Yesus. Bapa dari dalam awan itu memperdengarkan suara-Nya dan berkata: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."
· Saat Pencurahan Pentakosta, dimana Bapa mengutus, Anak yang memberikan Roh Kudus, dan Roh Kudus tercurah pada murid-murid Yesus yang ada di atas loteng.
KESIMPULAN
Karena kebenaran ini berasal dari Sang Pencipta, bukan ciptaan, maka harus kita sadari adanya perbedaan dasar antara Pencipta dan yang dicipta. Ketika kita menemukan kesulitan besar di dalam mempelajari dan mengajarkan doktrin ini, hal ini adalah wajar. Doktrin tritunggal memang sulit dipelajari karena melampaui rasio manusia (supra rasional). Tetapi ini bukan berarti bertentangan dengan rasio (kontra rasional).
Doktrin ini memang tidak masuk akal, karena memang melampaui akal. Pada waktu kita mempelajari Tritunggal, kita bukan hanya menyelidiki kesimpulan dogma yang sudah didiskusikan berabad-abad, melainkan juga kita sedang belajar dari Dia, Allah Tritunggal. Allah bukan sekedar obyek penyelidikan kita, melainkan subyek, karena kita harus bersikap rendah hati di hadapanNya. Kita harus kembali kepada Alkitab sebagai sumber pengajaran itu sendiri. Kita tidak perlu mencari pada buku-buku filsafat atau kitab-kitab agama lain, tetapi hanya Alkitab. Doktrin Allah Tritunggal ini memang tidak secara eksplisit tertulis dalam Alkitab, tetapi itu tidak membuat bahwa doktrin ini bukan berasal dari Allah. Dalam pergumulannya bapa-bapa gereja menemukan dan akhirnya mensarikan ke dalam kalimat-kalimat lengkap. Pemahaman itu sendiri mereka ambil dari penyelidikan Alkitab yang seksama. Jadi, kita hanya dapat mengenal Allah sejauh Dia menyatakan diriNya.

Mari kita kembali kepada pernyataan Shema Yisrael dan Veahavta yang dahulu diucapkan oleh Moshe/ משה/ Musa dan dikutip juga oleh Yeshua/ ישוע/ Yesus seperti yang dapat dibaca dalam Ulangan 6 : 4 - 5, Imamat 19 : 18, Matius 22 : 37, Markus 12 : 29 - 31, Lukas 10 : 27 berikut ini
ReplyDeleteIbrani : שמע ישראל יהוה אלהינו יהוה אחד. ואהבתא את יהוה אלהיך בכל לבבך " ובכל נפשך ובכל מאדך ואהבתא לרעך כמוך. "
Translit : " Shema Yisrael YHWH ( Adonai ) Eloheinu YHWH ( Adonai ) ekhad. Veahavta et YHWH ( Adonai ) Eloheikha bekol levavkha uvkol nafsheka uvkol meodekha veahavta lereakha kamokha. "
Terjemahan : " Dengarlah, hai orang Israel: YHWH ( Adonai ) Elohim kita: YHWH ( Adonai ) itu satu. Dan kasihilah YHWH ( Adonai ) Elohimmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. " 🕎✡🐟🕊📖🇮🇱✝